Marabahan, petak danum arep

Rabu, 8 Agustus 2018 saya pinjam sepeda motor kawan. Berangkat mengantar CPU yang sedang error ke Megacom. Orang Marabahan pasti taulah megacom itu dimana. Pada zaman dahulu, sebelum berbentuk CV, Megacom adalah tempat kursus Komputer dengan nama Jahir Komputer. Siapa yang masih punya ijazahnya? wkawkakwakw. Begini-begini saya juga alumni Jahir Computer, kursus word tahun 2002 wakwakwkakwaw.
Saya bukan ingin bercerita tentang Megacom aka Jahir Computer, tapi tentang perjalanan saya kembali ke Kantor setelah mengantar CPU itu.
Dari Desa Bagus saya memutuskan pulang ke kantor dengan menyusuri sungai Barito, maksudnya naik sepeda motor dengan mengikuti jalan yang bersisian dengan sungai. Sebenarnya itu adalah jalan utama, sebelum ada jalan tembus dari Basahab ke Jembatan Rumpiang.
Saya tidak punya patokan tanggal yang tepat kapan jalan tembus itu dibuat. Hanya seingat saya medio 90an-2000an awal ketika saya masih tinggal di Basahab, jalan itu mulai dibuat, membelah persawahan. Dulu sekali jalan tersebut hanya tanah, dan setapak. Saya pernah berjalan kaki dengan kawan-kawan di basahab menuju rumpiang, lalu balik lagi ke basahab. Itu jauh sebelum ada jembatan rumpiang, masih ada dermaga dan kapal fery di sana.
Kembali ke jalan yang saya susuri, orang Marabahan bilang itu daerah hilir, adapun arah ulu benteng hingga perkantoran sekarang lebih sering disebut Darat. Sedangkan sekitar kubah, sebelum pasar wangkang dan sekitarnya diberi nama Kampung Tengah alias kampung Bentok. Mayoritas bahasa yang digunakan dari hilir, bentok sampai ulu benteng adalah bahasa bakumpai. Bahasa Bakumpai adalah salah satu kebanggan dalam diri saya pribadi, karena meskipun tidak secara mahir menguasainya, Bahasa Bakumpai menambah perbendaharaan kata yang bisa saya fahami apabila berkomunikasi dengan kawan-kawan di kalteng wakwkakwkaw. Bahasa Bakumpai kalau tidak salah selain di Batola, juga sampai ke Kapuas (Kalteng), namun naik daripada kapuas, bahasa nya sudah agak berbeda, entah bahasa dayak yang seperti apa namanya saya pun tidak mengetahui.
Menyusuri jalan lama itu, saya melihat kembali flahsback masa lalu Marabahan yang masih bertahan. Rumah-rumah dipinggir sungai barito, dengan tiang yang tertanam di dalam sungai. Aktifitas perikanan sudah agak lebih maju karena pakai keramba apung. Jaman dulu kebanyakan mencari ikan dengan ma-rengge, atau me-lunta, atau me-unjun. Tetapi sepanjang perjalanan itu saya masih menyaksikan juga lalu lalang jukung dan kelotok, meskti mungkin hanya sebatas alat angkutan untuk kepentingan sendiri, bukan komersil alias taksi kelotok. hahahaha.
Melewati Mesjid Agung Al-Anwar, saya masih menyaksikan yang namanya anak-anak Aliyah dan Tsanawiyah yang nongkrong di dermaga, bedanya sekarang banyak paman pentol hahahaha, jaman saya dulu paman pentol masih sedikit, itupun pentol kanji, bukan daging sapi/ayam seperti sekarang.
Lewat dari sana melewati jembatan, sebelum wilayah kampung bentok. Sedikit melirik ke kiri, eh ada Jalan Keramat. Seingat saya dulu, zaman-zaman SD dan SMP, saat saya sering menjemput rekan saya Hamidan disana, namanya masih GANG KERAMAT, belum jadi JALAN KERAMAT, berarti naik pangkat dong hahahahha.Kapan-kapan akan saya ceritakan kawan-kawan di Gang Keramat.
Lanjut melewati kampung bentok, ada rumah Kai Guru jarjani, dulu sering dibawa abah kalau mengaji, kitab-nya Sabilal Muhtadin juga parukunan, yang murid-murid-nya jelas lah lebih tua dari saya, kawan-kawan abah saya. Tapi asyiknya, pada akhirnya saya tau ada murid beliau yang merupakan bapak dari teman saya di SMA, dan ternyata beliau itu Auditor, dan yang memeriksa saya sewaktu jadi bendahara wkawkakwaw, jadi lucu juga, ternyata bisa bertemu dalam tugas hahahha.
Lewat rumah kai guru Jarjani, ada Kubah, lalu ada Rumah Kai H. Iwat, dulu waktu almarhum Kai H. Bawai masih hidup setiap habis sholat jumat anak-anak pasti singgah dirumah beliau. Dapat makan, kalau tidak nasi ya kue, dapat minum teh. Selamatan lah intinya. Tapi itu waktu saya kecil, sekarang saya sudah tidak pernah singgah lagi karena saya jumatan biasanya di antara Marabahan-banjarmasin, kadang di puntik, kadang di handil bakti, kadang ya sampai banjarmasin.
Setelah itu lewat jembatan, naik ke Pasar Wangkang. Eh, teman saya teriak “Riiiiiin….sini ikam” ahahahha, eh ternyata yang manggil lailan, kawan saya SMP. dari SD sih rasanya. Selepas SMP saya tidak tau lagi kabarnya, ternyata dia menikah, dengan bubuhan bansaw subarang, begitu teman-teman saya bilang. Setelah 15 tahun baru kemaren itu saya ketemu lagi, maksudnya ketemu yang disengaja. Karena dia yang memanggil ya saya singgah di rumah / warung nya, ditawari kue, enak katanya, cuman setengah ratus ribu hahahha.
Tapi bukan itu sih yang membuat saya terkejut, tetapi pasar wangkang nya oy, hahahahah. Ternyata pasar wangkang lagi direnovasi, atau pembangunan gitulah. bayangkan betapa gak update nya saya tentang Marabahan, yang setiap hari saya pasti kesana, bolak balik dari banjarmasin, ternyata lagi ada pembangunan pasar wangkang. hahhhahaha.
Belum cukup reda keterkejutan saya, pas lewat pasar baru, eh sudah di pasangi pagar seng keliling. Artinya apa? artinya ada pembangunan dong, berarti pasar wangkang dan pasar baru sedang direvitalisasi, biar mantab.
Marabahan, apapun yang terjadi adalah kampung halaman saya, petak danum arep. Meskipun banyak yang berkembang dalam puluhan tahun saya hidup di Marabahan, suasana yang dulu tetaplah saya rindukan, mungkin juga perasaan kawan-kawan lain yang jauh merantau. Ada sungai, sungai barito, tempat kami mandi dulu. Gemericik air yang berpadu dengan desingan mesin kelotok hahahahah. Rumah dipinggir sungai, ah masih seperti dulu.
Oh iya, saya dan amang budi pernah menghayal siang-siang makan di warung yang berada di pinggir sungai, kesana naik kelotok, entah dimana tempatnya yang masih ada seperti itu, apakah di Murung Raya, atau sampai banua Anyar sana juga tidak tau hahaha itu hanya hayalan yang belum terwujud.
Marabahan, tetaplah kota bahalap dihati saya, kalau visi Batola Setara itu menata kota membangun desa, Marabahan  akan merasakan keduanya, karena di Marabahan ada kota nya, di marabahan juga ada desa nya hhahahha. Marabahan, selamanya tetap ada dihati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.