Diary Hari ke-2 : Kuliah umum Kepala BPPTIK Cikarang

Ah, akhirnya saya punya oleh-oleh juga buat bumi ije jela tercinta. namanya dibayarin pergi ya harus bawa oleh-oleh dong wkakwkawkakw. Ini kisah tentang pengembangan SDM khususnya dibidang TIK. Kuliah umum hari ini disampaikan oleh Bapak Dr. Nusirwan. Kepala Balai Pelatihan dan Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (BPPTIK).
Mendengar dan melihat beliau bercerita, bukan seperti kuliah umum sih, tapi lebih seperti stand up comedy yang berisikan curhat beliau terhadap BPPTIK dan posisinya sebagai tepat pengembangan SDM bidang TIK satu-satunya yang ada di Indonesia yang sudah disertifikasi dan diakreditasi oleh LAN.
Berbicara tentang nasib BPPTIK, tidak jauh beda dengan ASN di daerah, khususnya ASN yang berkecimpung dibidang TIK. Perlu, tapi kurang diperhatikan. Bukan saya ngomong ini tentang diri sendiri, tetapi secara keseluruhan, baik infrastruktur maupun SDM di daerah itu kan tidak punya dukungan kuat untuk dikembangkan maupun mengembangkan diri.
Lihat kisah sedik BPPTIK, dimana gedung-gedung dan fasilitasnya ini dihibahkan oleh Pemerintah Korea Selatan melalui KOICA kepada Pemerintah Repubik Indonesia dalam hal ini Kominfo. Dengan kondisi gedung-gedung yang luar biasa, ratusan kamar, puluhan ruang kelas dengan rata-rata 15-30 PC didalamnya, didukung fasilitas olahraga, aula yang besar dan fasilitas pendukung lainnya, namun sedikit sekali kegiatan yang bisa mereka laksanakan. Ya, karena dana APBN yang tak begitu banyak untuk melatih para ASN. Beberapa solusi coba dijalankan, karena mereka juga sering di jenguk pejabat-pejabat Korsel yang marah-marah kenapa fasilitas yang mereka berikan tidak dimanfaaatkan secara optimal. ya mau bagaimana, mau mengadakan pelatihan kalau dana nya gak ada. Sekarang sejak 2015 syukur-syukur ada skema baru bahwa BPPTIK bisa menarik PNBP bagi peserta pelatihan. tapi ya yang jadi masalah ASN ASN di daerah maupun di K/L juga gak bisa ikut pelatihan kalau dana diklatnya gak tersedia di instansi nya hahahha. Jadi ya begitulah nasib nya, tempat latihan nya gak di dukung APBN, pesertanya juga minim dukungan APBD, tersisa Korsel lah yang mencak-mencak tempat pelatihan hibah mereka gak full time dan berkelanjutan melaksanakan kegiatan.
Okelah kita lupakan problema ini, namanya ada kesempitan ya pasti ada kesempatan. Maka dari itu berikut oleh-oleh saya.
BPPTIK, sebagaimana yang kita ketahui adalah sebuah lembaga resmi pemerintah yang berhak mengeluarkan sertifikat pelatihan bagi ASN dibidang TIK. Sertifikat ini adalah sebuah pengakuan atas kompetensi seorang ASN, dan sertifikatnya diakui sebagai sertifikat yang dapat memberi impact bagi status kepegawaian seorang ASN. Bahasa kasarnya, BPPTIK itu lembaga resmi pemerintah yang berhak memberi sertifikat yang bisa dipakai dalam penjenjangan karir PNS, bisa untuk naik pangkat, dan tidak ada lembaga lain yang telah di sertifiasi oleh LAN yang memiliki hak seperti BPPTIK.
Dengan kondisi sedang sepi kegiatan seperti ini, apakah ini namanya bukan sebuah kesempatan bagi Pemerintah kabupaten barito kuala untuk bekerja sama dengan lembaga ini?. Kita ini menghayalnya sudah terlalu tinggi, ingin ini ingin itu, ingin egov, smart city, pelayanan digital dsb, tetapi apa sudah dipikirkan SDM nya? oke bisa semua aplikasi dan insfrastruktur itu bisa dilempar ke pihak ketiga, tapi siapa yang memakainya? Apa komputer itu bisa mengetik sendiri? apa Sistem itu bisa meng-insert data sendiri? tidak kan? pasti perlu ada SDM yang menjalankannya.
Kalau infrastrukturnya ada, SIM nya jalan, tetapi tidak ada aparatur yang menjalankannya apa malah jadi sia-sia? Apa nanti nya ya hasil nya begitu-begitu juga? pelayanan masyarakat tetap lamban, pemerintahan masih berkutat dengan kertas dan fotocopy-an. Kapan lagi maju nya kalau sudah zaman now ini masih bekerja seperti sistem ordebaru.
Ayolah…, mari kita berubah, mari kita berbenah. Mumpung Bupati dan Wabup masih baru, pasti ibu dan bapak pengen perubahan yang lebih baik, baik dalam segi pemerintahan, maupun pelayanan publik-nya. Coba pian pikirkan bagaimana caranya sishkan APBD untuk melatih setidak-nya 20-25% dari ASN kabupaten kita, anggaplah 1250 orang, kalikan 5 juta biaya diklat + 5 juta SPPDnya, ya 12.500.000.000 lah, kurangi 1 (satu) jembatan saja dalam 1 tahun, lalu kita ajak BPPTIK bicara, kita mintakan mereka mendidik dan melatih Aparatur kita dengan kurikulum yang komprehensif, yang lain menyiapkan teknologi dan payung hukum, SOP segala macam, insya Allah 2019 kita sudah Setara dengan daerah lain dengan penggunaan dan penetrasi dibidang IT, pimpinan mau apapun Insya Allah aparat di daerah mampu melaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Akhirnya, saya tutup cerita malam ini dengan mengucapkan Wabillahitaufik wal hidayah, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

From R 215 meja B2 gedung BPPTIK Cikarang, pajrin farisi melaporkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *