Selamat Jalan Pak Guru (bahagian kedua)

Puncak kejayaan bidang IT khususnya dalam hal infrastruktur IT di Kabupaten Barito Kuala terjadi pada media tahun 2008 itu. Hal ini tentu saja berkat kemampuan dan tangan dingin beliau, Bpk Eko Haryanto selain tentunya tanpa mengecilkan peran serta dari berbagai pihak yang turut mendukung dan bekerja keras dibelakangnya. Peristiwa yang sangat saya ingat adalah saat tamu-tamu dari Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BALITBANGDA) Provinsi Kalimantan Selatan datang secara khusus ke Kota Marabahan, Kabupaten Barito Kuala untuk melihat langsung keberhasilan pengembangan infrasturktur IT ini. Kalau tidak salah ingat hari itu adalah hari-hari awal Bapak Ir. Supriyono duduk di kursi Sekretaris Daerah, setelah sebelumnya adalah Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kab. Barito Kuala. Selain mendapatkan presentasi tentang WAN Kota di Barito Kuala, belasan BTS yang mengcover 17 Kecamatan di Kab. Barito Kuala, juga sempat di demokan video conference antara peserta yang ada di NOC WAN Batola dengan bapak Sekda di ruangannya (meski waktu itu tidak sempat terlalu banyak bicara akibat banyaknya tamu dan berkas di meja beliau wkawkakwkakw).
Selepas itu kondisi semakin menurun, selain akibat gonjang ganjing program JARDIKNAS di pusat yang harus berpindah tangan dari BPKLN ke Pustekkom, juga keterbatasan kami sebagai tim ICT yang cuma bisa menggarap sisi pendidikan tanpa bisa mengembangkan ke arah pemerintahan (e-Gov) akibat terbatasnya tupoksi yang kami miliki.
Beralih sebentar ke pengalaman lain yang beliau bawa untuk saya, adalah ketika beliau mengajak saya untuk bergabung dengan projek SPRI (surat Perjalanan Republik Indonesia). Berkat beliau akhirnya saya bisa merasakan terbang pertama kalinya dengan pesawat terbang waktu itu. Ikut proyek SPRI mengharuskan saya dan Mr. Habibie waktu itu untuk dilatih di Puncak, Bogor. Penerbangan pertama saya waktu itu adalah dengan pesawat Garuda Indonesia rute Banjarmasin-Soekarno Hatta. Penerbangan pertama itu aman dan lancar saja, karena saya dan Habibie cuma ikut mengekor dibelakang pak Eko, mulai proses masuk bandara, cek in, ke ruang tunggu, hingga masuk pesawat kami tenang-tenang saja. Setelah dilatih di Puncak Bogor mulai dari SOP Pembuatan Passpor, mengenal dan memahami cara merakit perangkat-perangkatnya, kemudian mengoperasikan perangkat beserta aplikasinya, akhirnya kami pulang kembali ke Banjarmasin.
Saya agak lupa tanggalnya, cuma rasanya antara 19 atau 20 Juli 2008. Sewaktu akan pulang, pa eko bilang beliau tidak ikut pulang saat itu karena mau ke Solo terlebih dahulu, maka tinggallah saya dan Habibie melogo galau, bagaimana caranya pulang ke Banjarmasin naik pesawat karena tidak berpengalaman wkawkakwkawka. Penerbangan kami adalah dengan pesawat sriwijaya air, entah terminal berapa saya lupa. Kami diantar oleh pihak panitia ke Bandara Sokarno Hatta dan sampai sekitar pukul 12. Penerbangan kami sebenarnya adalah pukul 5 sore, jadi bayangkan saya betapa lengo-lengo-nya kami selama waktu menunggu itu di bandara. Dengan penuh keragu-raguan kami melangkah masuk bandara, coba liat-liat logo-logo di counter check in dan maju menuju counter-nya Sriwijaya Air. Kemudian kami dapat boarding pas yang waktu itu tulisannya gate A6 kalau (tidak salah lagi). Selama waktu menunggu keberangkatan saya dan habibie tidak makan nasi, karena berharap di Sriwijaya Air itu sama seperti garuda yaitu memberi makan para penumpangnya wakwkkwkaw. Al hasil kami cuma minum 1 botol air mineral dan 2 bungkus kacang kulit rasa selama waktu menunggu itu.

Ketika hampir tiba waktu masuk pesawat saya coba berjalan ke pintu Gate, ternyata pesawat tujuan Banjarmasin itu lewat Gate A5. Kami pun jadi bingung masuk gate A6 sesuai boarding pass atau A5 sesuai papan informasi gate. Setelah sedikit bermusyawarah dan mendapat mufakat kami berjalan ke gate A6. Eh ternyata benar tidak ata tulisannya tujuan Banjarmasin, maka lari lah kami secapat-cepatnya ke Gate A5. Sampai disana seperti kita tahu ada pintu kiri dan pintu kanan. Saya pun coba ikut berjalan mengikuti barisan orang di pintu kanan. Saya coba bertanya dengan penumpang yang sedang berjalan, “Pak, ini pesawat ke banjarmasin ya?” dengan muka bingung dia tarik temannya, eh ternyata temannya bule, maka saya pun untuk pertama kalinya dalam hidup bertanya pada bule “Sir, this is go to Banjarmasin? kata saya. Ternyata dia menjawab “No, no, no, its go to solo” kata nya. Astaga salah lagi, kami lari lagi ke pintu kiri sambil lari bertanya pada petugas yang ada dipintu “Banjarmasin pak?”, “Ya, lurus belok kiri pintu pertama” kata petugas dengan sedikit berteriak. Setelah lari dan menemukan pintunya, kami telusuri belalai gajahnya dan sampai ke dalam pesawatnya.

Jangan bayangkan hati yang tenang ketika masuk pesawat itu, bayangkan bagaimana rasanya jadi orang terakhir yang masuk pesawat meski didalam masih ada beberapa yang belum duduk masih memasukkan tas ke bagasi kabin atas tempat duduk. Saya dan habibie masih merasa asing dan gugup karena sejujurnya KAMI TIDAK TAHU PEWASAT APA YANG KAMI NAIKI, wkawkakwkaw. Mau bertanya dengan pramugari rasa malu karena kami memang pemalu. Duduk di kursi hingga pesawat tinggal landas dan terbang ke langit. Ketika pesawat sudah dalam posisi datar dan lampu tanda sabuk pengaman boleh dilepas barulah saya beranikan diri bertanya dengan orang yang disebelah kami. “Pak, bapak tujuannya mau kemana?” tanya saya. Dan beliau menjawab “Aku handak bulik Ke Kandangan” ucap beliau. Dengan spontan saya langsung bertanya “Berarti pesawat ini ke Banjarmasin lah pak? “Iih” kata beliau. Maka dengan sedikit nyaring dan penuh ketenangan kami berdua berucap “Alhamdulillah”. Setelah itu kami baru tenang dan yakin kalau kami tidak salah naik pesawat pulang wkakwkawkakwakw. Kisah perjuangan kami di Kantor Imigrasi Banjarmasin dapat dibaca di tulisan ini, dan akhirnya Habibie pun juga bertugas di Kantor Imigrasi Kotabaru sejak juli 2008 hingga akhir kontrak di pada 31 Desember 2009.

Kini Pak Eko sudah tiada, tentu masih banyak kenangan dan pengalaman pertama yang beliau berikan pada saya dan teman-teman lainnya. Kini tinggallah kami anak-anak beliau yang masih hidup bertahan disini. Kami semua tentu masih ingat dengan cita-cita dan harapan beliau pada Kabupaten ini. Meski beliau tidak lahir disini, tetapi sumbangsih tenaga dan pemikiran beliau luar biasa besarnya untuk daerah ini.

Saya bisa saja pergi, meninggalkan Kabupaten Barito Kuala ini, membiarkan daerah ini berjalan apa adanya. Tetapi pergi begitu saja tentu saya seperti berkhianat pada hati dan petak danum ini. Beliau, saya dan kami semua yang pernah beliau ajari, masih punya cita-cita yang tinggi untuk Kabupaten Barito Kuala tercinta ini. Kami masih ingin mengembalikan kejayaan Kabupaten Barito Kuala dibidang IT, membawa teknologi yang bermanfaat bagi pemerintah dan masyarakat serta pihak ketiga. Karena kami sadar, sebagai daerah yang memiliki banyak keterbatasan, Kabupaten Barito Kuala akan bisa maju mengejar ketertinggalannya dengan teknologi informasi dan komunikasi yang maju. Seperti ikrar yang sering kami teriakkan ketika menysuri jalan-jalan antara Anjir-Tamban, atau antara Wanaraya-barambai, Rantau badauh-Alalak atau dari marabahan-Tabukan “Demi Nusa dan Bangsa”.

Kini, kami hanya bisa mendoakan semoga beliau mendapat tempat terindah disisi Allah SWT, dan mudah-mudahan pahala selalu mengalir kepada beliau atas ilmu-ilmu yang beliau berikan pada murid-muridnya. Dan semoga pula kami-kami sebagai murid beliau, keluarga dan handai taulan beliau memperoleh kekuatan untuk menjalani kehidupan tanpa bimbingan beliau lagi, dan semoga Allah SWT melapangkan hati kami, melapangkan jalan kami, untuk mewujudkan cita-cita bersama, menuju Kabupaten Barito Kuala yang ber-ICT tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *