Diary ITE-6 : Riak Yang Tersisa

with Mr Lim Jo Ho & Miss Olive KOICA

Tidak terasa 4 hari sudah pelatihan IT Essentials 6 berakhir, pelatihan yang dilaksanakan oleh KOICA-KOMINFO-LAN-SETNEG ini tentu punya banyak kenangan khususnya bagi saya pribadi. Apa yang saya alami, saya dengar dan pelajari disana tentu teramat sayang untuk tidak saya bagikan. Ada hal-hal tentang kehidupan “ketuhanan”,
ke “Indonesia”an dan “Global”lisasi yang menyadarkan saya bahwa selama ini saya seperti katak dalam tempurung wkawkakwaw.

Pertama adalah tentang “ketuhanan”. Yaitu rasa syukur yang teramat sering saya sepelekan. Merasa selalu kurang, tidak puas dengan keaadan, merasa ingin lebih dan sebagainya. Sementara itu dibelahan dunia lain yang tidak pernah saya bayangkan ada banyak yang lebih kesusahan. Pengalaman Pak Jaquin dari Timor Leste yang pernah bekerja untuk PBB itu sungguh menyadarkan saya, betapa hari ini saya sangat beruntung. Kehidupan yang sangat keras di Afrika, copet saja pakai acara tusuk menusuk sampai mati, belum lagi masalah prostitusi bertarif 50 dolar dengan bebasnya beraksi tanpa ada yang peduli, ah sedihnya membayangkan kaum perempuan yang terpaksa mencari uang dengan cara seperti itu, dengan biasa-biasa saja, tak malu-malu tampil terbuka dimuka umum, hanya untuk demi sesuap nasi.

Teman baik saya yang lain, yang iPhone nya membuat sim card saya terbawa ke Timor Leste juga punya cerita menarik, bahwa ternyata gaji nya disana sekitar 166 USD perbulan, kalau dikalikan Rp 13000 bearti gajinya Rp 2,158,000 saja, masih lebih besar saya dong hahahahha. Juga ada rekan saya yang bekerja di Merauke sementara keluarganya ada di jakarta, ah juga lebih beruntung saya yang bisa tiap hari PP rumah-kantor cuma dalam tempo 2 jam saja.

Artinya apapun dan bagaimanapun keadaan saya sekarang, ini jauh lebih baik dari apa yang mereka alami, maka itu patutlah kiranya saya pribadi lebih meningkatkan rasa syukur kepada ALLAH SWT yang telah melimpahkan rezekinya begitu besar kepada saya. Bukankah begitu?

Untuk hal ke INDONESIA an, saya baru sadar dan mengerti kalau rupanya negara ini berjalan dengan luar biasa, bahkan untuk urusan kerjasama saja ada philosofinya. South-South and Triangular Cooperation alias kerjasama selatan-selatan dan kerjasama pihak ketiga pada dasarnya adalah manifestasi dari pembukaan UUD 1945, bahwasanya kita “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Mengapa harus membantu negara lain? ini juga yang ada diotak saya waktu pembukaan kegiatan training itu. Ternyata jawabannya adalah …. agar negara kita mendapat keberkahan, sebagaimana dalam agama apabila kita bersedekah, saling berbagi, maka bukannya berkurang, melainkan akan bertambahlah kenikmatan yang diberikan Tuhan kepada negara kita. Ah, jadi makin bangga jadi bangsa Indonesia.

Bagaiaman dengan “globalisasi?”. Jujur saja, kata-kata MDG’s itu saya sering liat, tapi tidak memperhatikan wkawkakwaw. Tujuan Pembangunan Milenium (bahasa Inggris : Millennium Development Goals atau disingkat dalam bahasa Inggris MDGs) adalah Deklarasi Milenium hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada September 2000, berupa delapan butir tujuan untuk dicapai pada tahun 2015. Targetnya adalah tercapai kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada 2015. Target ini merupakan tantangan utama dalam pembangunan di seluruh dunia yang terurai dalam Deklarasi Milenium, dan diadopsi oleh 189 negara serta ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New York pada bulan September 2000 tersebut. Apa butir-butir MDG’s tersebut?

  1. Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan
  2. Mencapai pendidikan dasar untuk semua
  3. Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
  4. Menurunkan angka kematian anak
  5. Meningkatkan kesehatan ibu
  6. Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya
  7. Memastikan kelestarian lingkungan hidup
  8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan

dan bodohnya lagi saya juga baru tau kalau MDG’s itu sudah berakhir pada 31 Desember 2015 silam wakwkawkaw. Sekarang sudah tambah lagi, namanya adalah SDG’s. Apa itu SDG’s?

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Sustainable Development Goals disingkat dengan SDGs adalah 17 tujuan dengan 169 capaian yang terukur dan tenggat yang telah ditentukan oleh PBB sebagai agenda dunia pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi .Tujuan ini dicanangkan oleh bersama oleh negara-negara lintas pemerintahan pada resolusi PBB yang diterbitkan pada 21 Oktober 2015 sebagai ambisi pembangunan bersama hingga tahun 2030. Tujuan ini merupakan kelanjutan atau pengganti dari Tujuan Pembangunan Milenium yang ditandatangani oleh pemimpin-pemimpin dari 189 negara sebagai Deklarasi Milenium di markas besar PBB pada tahun 2000 dan tidak berlaku lagi sejak akhir 2015.

SDG's
SDG’s

Kata-kata yang sangat menarik bagi saya adalah SDG’s merupakan agenda dunia pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi, artinya sebenarnya negara-negara di Dunia berusaha untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh umat manusia, wkawkakwkka. Artinya selain perang dan segala kejahatan-kejahatan di muka bumi, masih banyak yang ingin hidup damai dan sama-sama sejahtera. Ah, indahnya dunia kalau itu tercapai.

Banyak sih hal-hal baru yang saya dapat, hanya memang saya lebih suka memikirkan apa yang dapat saya bawa untuk kemajuan daerah, Kabupaten Barito Kuala yang tercinta ini, khususnya dibidang IT. Dalam materi hari terakhir saya sempat bertanya pada pejabat Kominfo yang memberikan materi, apa Kominfo memberikan DAK (Dana Alokasi Khusus) untuk pengembangan IT di daerah, misalnya untuk pembangunan infrastruktur?. Dulu pernah jawab beliau, hanya saja daerah-daerah yang mendapat DAK tidak begitu memperhatikan laporan-laporan penggunaan DAK nya, sehingga akhirnya Kominfo yang keteteran kala diperiksa BPK, wal hasil Kominfo sulit meraih WTP akibat ada “hutang” laporan tersebut.

Selain pada pejabat kominfo tersebut, saya juga sempat berbincang dengan Mr. Lim Ji Ho selepas acara penutupan. Apakah Korea dalam hal ini perwakilan KOICA di Indonesia bisa membantu pengambangan IT di pemerintah daerah, wabil khusus pengembangan infrastruktur ICT-nya. Oleh Mr. Lim Ji Ho menjelaskan bahwa kapasitas beliau disini memang sebenarnya khusus pada bidang training IT, namun sebenarnya bisa saja pemerintah daerah berkonsultasi dengan kominfo dan kominfo akan mengarahkan pada pihak KOICA untuk tindak lanjutnya. Hal ini karena bidang IT adalah juga salah satu program yang di support oleh KOICA. (just for information, i ask him in english, i dont know he understand with my question or not, wkawkakwakwkawkaw)

Maka dari itu, sedikit pesan saya buat calon bupati dan wakil bupati Barito Kuala nantinya, kalau mau lebih kreatif mencari uang buat pembangunan daerah, selain mengharap DAU maupun DAK dari Pemerintah Pusat, marilah coba cari peluang dengan lembaga-lembaga kerjasama luar negeri, ada aja kok yang mau bantu tanpa ngutang hahahaa.

mas solihon BPPTIK
mas solihon BPPTIK

Oh iya sampai lupa, ini yang ditengah namanya mas Sholihin, someone yang kemaren menelpon saya buat mengabarkan saya lolos seleksi buat ikut training ini, terima kasih banyak mas sol atas segala bantuannya, boarding pass pulang ke Banjarmasin sudah saya kirim balik via kantor pos hari selasa tanggal 8 kemaren hahahhaa.

One thought on “Diary ITE-6 : Riak Yang Tersisa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *