Diary ITE-6 : 3rd Day, Oleh-Oleh Buat Batola, Teknologi Jaringan & Sistem Keamanan di Pemda Bekasi

Kunker ITE-6 ke Pemda Bekasi

Hari ke-3 kemaren, materinya adalah Network & Security Fundamental. Kegiatan ini dibagi dalam 2 sesi. Sesi pertama adalah materi teori yang dilaksanakan di kelas, kemudian ada sesi kunjungan kerja ke Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi. Sebenarnya saya pikir ah ini cuma jalan-jalan, daripadakepada dsb. Apalagi saya pribadi dan mungkin banyak dari kita tidak tau seperti apa perkembangan IT di Kabupaten Bekasi, tidak seperti Surabaya, jakarta dan Bandung yang sudah mentasbihkan diri sebagai smart city. Seperti apa hasil jalan-jalannya? cek it out…Saat pertama datang, kami disambut oleh orang-orang yang demo, sebenarnya saya pengen sekali berfoto bersama tu pendemo, sayangnya bus kami tidak diperbolehkan berhenti dekat pendemo oleh aparat kepolisian wkawkakwaw. Setelah berputar-putar di halaman parkirnya, akhirnya kami mendarat dengan selamat di lobby kantor Bupati Bekasi. Kantor Bupati bekasi ini seperti sebuah komplek, ada sekitar 14 gedung yang berada di komplek ini bersama-sama dengan kantor bupati/sekretariat daerah Kabupaten Bekasi-nya. Teman saya yang dari Timor Leste sampai geleng-geleng kepala karena katanya ini lebih besar daripada kantor mereka disana.

Pertemuan diadakan di ruang rapat bupati, dengan disambut oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bekasi Bapak Hudaya. Bersama dengan Bapak Ary Saktiawansyah yang sepertinya orang paling sakti soal IT di Kab. Bekasi ini beliau berdua memaparkan kondisi IT di Kab. Bekasi. Berikut ringkasannya :

Saat ini pastinya belum banyak yang bisa dilihat dan didengar mengenai perkembangan IT di Kabupaten Bekasi. Hal ini memang wajar karena kami pun belum tampil ke muka umum untuk mentasbihkan diri sebagai smart city atau cyber city, berbeda dengan prov/kota/kab yang lain dan lebih terdengar gaungnya daripada kami. Kami saat ini baru melangkah pada landasan pertama yaitu INFRASTRUKTUR. Memang wajar banyak daerah berkeinginan jadi “smart city”, tetapi keinginan ini jangan latah untuk cuma pengen tampil menonjol, bukan itu tujuannya. Essensi dari smart city adalah KEBUTUHAN, dan memang karena kebutuhan itulah kami mulai merancangnya secara perlahan-lahan.

Seven layer OSI
Seven layer OSI

Sebagaimana 7 Layer OSI kebanyakan pemda langsung melihat sisi teratas alias layer ke 7 yaitu APLICATION LAYER, padahal itu semua tidak akan berjalan dengan baik tanpa pondasi yang kuat dan aman. Maka dari itulah Pemda Bekasi lebih memilih penguatan dari segi INFRASTRUKTUR terlebih dahulu. Pemda bekasi saat ini membangun sendiri FIBER OPTIK untuk menghubungkan kantor pemda dengan seluruh kecamatan dan kelurahan yang ada. Hingga akhir 2015 sudah 140 km yang selesai dan dari total 300an km yang direncanakan tersisa 160 km yang Insya Allah akan selesai pada tahun anggaran 2016 ini.  Mengapa pemda harus capek-capek membangun infrastruktur sendiri? alasan pertama adalah KEDAULATAN. Ya, kedaulatan pemda, artinya semua data, semua network dan semua yang baikatan dengannya secara fisik dipegang oleh Pemda sendiri, ini juga adalah untuk alasan KEAMANAN. Apakah cuma dari pemda saja sampai kecamatan dan kelurahan? tidak, Seluruh Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah juga terhubung dan 74 sekolah setingkat SLTP dan SLTA (SMA/SMK) juga akan terhubung pada akhirnya.

Bagaimana dengan aspek SECURITY atau keamanan data dan ntworknya? sampai saat ini sudah ratusan router yang terpasang, ditambah lagi dengan firewall, Intrusion Detection System (IDS) dan Intrusion Prevention System (IPS). Karena secara fisik server-server website dan aplikasi telah “dibawa” secara fisik ke datacenter Pemda Bekasi, tentunya perangkat-perangkat kemanan dan penghalau seragan itu menjadi penting. Bagaimana pengaturan jaringannya? kami mengimplementasikan Virtual Local Area Network (VLAN) untuk membagi host-host yang ada sesuai kebutuhan. Pengaturan VLAN ini sendiri juga wajib diperhatikan untuk memudahkan jika suatu saat ada serangan terhadap server dan perangkat lain-nya lewat jaringan dalam.

Demikianlah paparan yang disampaikan kurang lebih 30 menit di ruangan itu. Hingga tibalah saatnya untuk tanya jawab dimana ini yang paling saya tunggu karena saking penasarannya saya dengan ke”sakti”an mereka wkakwkawkakw. Maka dari itu saya beranikan mengangkat tangan dan inilah daftar pertanyaannya wkakwkawkaw.

  1. Bagaimana sejarah awal dan Sejak kapan ada FO di pemda bekasi?
  2. Darimana Ide untuk menghubungkan seluruh instansi pemda bekasi dengan FO ini?
  3. Bagaiamana rahasia-nya hingga ide ini bisa di eksekusi oleh pihak Eksekutif dan disetujui oleh pihak legislatif?
  4. Berapa anggaran yang dipakai untuk membangun ini semua?

Pada tahun 2008 sewaktu masih berbentuk PDE (sebelum jadi Diskominfo pada 2010) 12 gedung di komplek perkantoran Pemda Bekasi ini telah dihubungkan dengan kabel FO, waktu itu yang punya ide dan gawe adalah bapak Ary Saktiawansah ini. Meskipun pada saat itu dianggap sedikit “gila” karena dianggap membuang-buang duit, toh pada akhirnya saat ini semua bisa menikmati, pekerjaan yang berhubungan dengan internet atau jaringan lokal berjalan cepat dan stabil.

Idenya sendiri lahir dari Diskominfo, lalu disampaikan dengan presentasi langsung kepada Bupati waktu itu, tidak lewat Sekda atau wakil Bupati, karena yang bisa memutuskan YA atauTIDAK kan Bupati, jadi langsunglah presentasi pada beliau dan alhamdulillah beliau merespon baik, setuju dan mendukung dengan sepenuh hati karena melihat kebutuhan dan manfaat kedepannya.  Tindak lanjut dari titik ini adalah disusunya MASTERPLAN pada tahun 2013 kemudian dilanjutkan dengan DED (detail Engineering Design) pada tahun 2014 dan akhirnya dikerjakan pada 2015 dan 2016 ini.

Rahasia hingga bisa terwujud seperti ini adalah pertama tentu kita harus didukung penuh oleh Kepala Daerah supaya benar-benar bisa berjalan. Kemudian teknik untuk meyakinkan DPRD ini adalah yang paling sulit. Karena pastinya pertanyaan DPRD yang paling sulit dijawab it ” DENGAN UANG SEBANYAK INI APA OUTCOME YANG DIDAPAT OLEH DAERAH???? KALAU MANFAATNYA KECIL BUAT APA BUANG-BUANG DUIT” seperti itulah kira-kira hal yang harus dijawab oleh eksekutif. Jika cuma menjawab dengan jawaban “ini sangat bermanfaat, memudahkan pekerjaan dsb yang senada dengan itu maka dijamin Insya Allah pasti kegiatannya bakal DICORET dari RKA, tetapi pihak eksekutif dan dalam hal ini Diskominfo telah memiliki jawaban pamungkas hingga akhirnya DPRD setuju dan mendukung program ini. Jawabannya adalah “Dengan dibangunnya jaringan kabel Fiber Optik keseluruh wilayah Kabupaten bekasi, maka pertama akan memudahkan pekerjaan, mempercepat pelayanan publik dan untuk perkembangan selanjutnya kita bisa “mengusahakan” jalur-jalur FO yang tidak dimiliki oleh operator manapun di Kab. Bekasi ini, yang bisa mencapai titik-titik terjauh kab. bekasi dengan menyewakan jalurnya pada pihak ketiga, entah itu operator komunikasi, atau kepada pabrik-pabrik yang ada di bekasi ini. 20% saja dari 8000 pabrik yang ada dibekasi, kemudian mereka mengggunakan layanan kita maka pastinya PAD alias Pendapatan Asli Daerah kita akan maju pesat bahkan bisa melebihi biaya pemeliharaannya sendiri setiap tahun, potensi PAD yang besar dan penghematan sekitar 28 milyar dibanding masing-masing memasang intenet sendiri dari beragam provider, akhirnya berhasil meluluhkan pihak legislatif, DPRD.

Tahun Anggaran 2015 program kegiatan ini telah memakan dana 22 Milyar dari total DPA Diskominfo waktu itu 64 Milyar. Tahun 2016 ini dari total Anggaran Diskominfo 83 milyar, ada 56 milyar yang digunakan untuk pengerjaan jaringan fiber optik di Kab. Bekasi.

Kadis Kominfo & Pencapil
Kadis Kominfo & Pencapil

Setelah sesi tanya jawab kami dibawa berkeliling ke Dinas Kependudukan & catatan Sipil Kab. Bekasi, salah satu SKPD yang merasakan manfaat besar dari jaringan FO Kab Bekasi ini, karena berkat terhubungnya kantor pemda dengan kelurahan dan kecamatan terjauh proses pertukarand ata dapat berjalan dengan baik dan lancar, serta pelayanan kepada masyarakat berjalan dengan maksimal.

Dalam kunjungan ini saya juga mendapat penjelasan tentang salah satu pemanfaatan besar penggunaan jaringan ini, entah apa nama programnya, kalau di tempat kita Kabupaten barito Kuala kan ada tuh program BULIN TERTAWA alias Ibu Bersalin, Terdata dan Membawa Akta . tapi disini canggih lagi. Begitu ibu bersalin di puskesmas atau RSUD, maka begitu dientri ibu ini melahirkan, anaknya namanya si A, datanya dari Puskesmas atau RSUD itu langsung masuk ke Dispencapil, dari sana langsung bisa diperbaharui Kartu keluarga-nya, lalu terbit Akte lahirnya, kemudian keluar KIA (kartu identitas anak) nya dan bahkan sudah bekerjasama dengan BPJS hingga keluar juga kartu BPSJ anaknya. Dengan demikian, ibunya masih berbaring di rumah sakit, prosesnya berjalan terus dan pada saat pulang dari faskes itu ibunya sudah sekalian membawa Akte Kelahiran, KK, KIA dan BPJS. ini yang benar-benar bulin tertawa wkawkakwkakwaw.

Pada kesimpulannya inilah yang ingin saya sampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Barito Kuala

  1. Pembangunan e-gov, cita-cita mau jadi cyber city atau smart city harus dimulai dari penyediaan INFRASTRUKTUR, tanpa pondasi yang kuat maka semuanya tidak akan berjalan dengan lancar, (nol beh hasile auh awen te)
  2. Pembangunan infrastruktr IT akan memakan biaya besar, namun murah jika dibandingkan dengan pemanfaatannya
  3. Tidak perlu latah ikut-ikutan cuma bikin aplikasi biar bisa tampil canggih, karena esensi dari E-GOV/Cyber City/Smart City itu adalah kebutuhan untuk meningkatkan pelayanan pada masyarakat.
  4. Dibutuhkan investasi yang besar untuk membangun semua itu, dan mungkin belum kelihatan hasilnya dalam 1-2 tahun.
  5. Pembangunan IT adalah untuk masa depan, sehingga salah besar jika niatnya cuma biar bisa tampil eksis lalu berharap terpilih 2x dalam pilkada wkawkakwakw

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *