Diary ITE-6 : 1st Day, Bertemu Pakar Kegagalan Penerapan IT di Indonesia

michael-s-sunggiardi

Saya adalah Pakar Kegagalan Penerapan IT di Indonesia. Itulah kata-kata beliau ditengah-tengah mengisi materi hari pertama ini. Surprize luar biasa bagi saya bisa bertemu beliau, Michael S. Sunggiardi. Orang dengan ulasan-ulasan menarik yang sering saya baca di milis Jardiknas jaman dulu, orang yang saya tau selalu ada disekitar pa Onno W Purbo jaman dulu, dan yang baru saya tau, beliau juga ada di Projek-Projek IT di Republik Indonesia yang kesemuanya bermasalah wakwkkawkawkaw. itulah mengapa beliau berkata “Saya adalah pakar Kegagalan penerapan IT di Indonesia.

Siapa sih Michael S.Sunggiardi? ah googling saja lah, biar puas carinya, soalnya nanti bikin penuh space tulisan diblog saja aja wkakwka. banyak cerita beliau tentang projek-projek IT di Republik ini yang akhirnya bubar jalan. Seperti jardiknas, yang dicita-citakan untuk menghubungkan antara Departemen pendidikan Nasional dengan Dinas pendidikan Provinsi, Disdik Kab/Kota, ke Sekolah, lalu guru dan para siswa. Kenapa itu akhirnya bubar? pada masa Menteri-nya M.NUH beliau sidak ke beberapa tempat, dan sialnya semua yang kebetulan kena sidak tidak jalan jaringannya wakwkakw. Pada akhirnya DPR pun berteriak bahwa program ini harus dihentikan karena tidak ada OUTCOME nya wkakwkakwaw.

Lain lagi dengan e-KTP. Kenapa ada yang ditangkap-tangkapin? padahal saya pikir e-KTP itu sudah bagus, aturannya juga bagus karena setiap orang waibpunya e-kTP soalnya susah ber-urusan kalau gak punya e-KTP. Tahu e-KTP punya chip? letaknya dibelakang foto. Pada edisi pertama Chip itu dari negara N dengan merk N. Chip ini dibeli dengan perangkat luna encrypt dan decript nya. Apabila ktp anda diterawang dengan flash light handphone dari belakang, coba fokuskan dibagian foto, lihat atas bawahnya. Apabila ada bintik-bintik hitam di bawah foto, artinya chip-nya N dan itu asli.

Lalu ada e-KTP Aspal. Apa itu? asli tapi tidak bisa dibaca karena chip-nya diganti dari negara F dengan merk S. Kenapa diganti? ya karena kehabisa duit lah. Sementara ATURAN kita pemenang tender adalah yang bisa kasih harga semurah-murahnya wakwkakwkaw. Dengan uang terbatas ada tawaran dari negara F itu, maka dibelilah chip merk S tersebut. Tetapi cuma beli chip doang, wajar murah. Sementara software untuk decrypt-nya tidak dibeli. jadinya apa? jadinya data yang masuk dan tersimpan itu cuma mentok didalam chip saja, tidak bisa dibaca oleh reader yang pakai decrypt punya N diawal tadi. bagaimana tau chip saya S? coba terawang lagi, akalu bintik hitamnya diatas artinya kena yang aspal wkawkakkaw. Mungkin inilah yang disebut dengan membuat kerugian negara serta menyeret pejabat di Kementerian Dalam Negeri, karena akhirnya e-KTP tersebut tidak bisa dibaca, walaupun sementara ini kita juga belum pernah liat reader e-KTp itu dipake di instansi-instansi atau di Bank_bank, selama ini juga cuma difotocopy, ya akhirnya tidak kentara itu asli apa aspal.

Lalu ingat dengan USO? Universal Service Obligation? tau dengan PLIK? mPLIK dan yang sejenisnya? Kesalahannya adalah menggunakan kata-kata KECAMATAN. Pusat Layanan Internet Kecamatan, Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan dsb, padahal itu bukan milik Pemda, pemrov apalagi kecamatan. Itu adalah sebuah kewajiban operator telekomunikasi yang tidak bisa menjangkau daerah-daerah pedesaan atau pedalaman dengan sinyal-sinyal BTS mereka, lalu kewajiban itu ditagih dan uangnya dikumpulkan lalu dibelikanlah alat alat, dibelikan mobil, komputer, CPU, VSAT dsb. Disebar-sebarlah ke daerah-daerah. Salahkah ini? tidak bagi bagi mereka tapi ya bagi kita. Kenapa salah? itu kalau dikasih mobil ke daerah itu barang siapa? siapa yang memeliharanya? siapa yang isi minyak dan ganti olie atau gaji sopirnya? Sementara pemerintah daerah cuma mengenal yang namanya DAU, DAK lalu ini barang apa kok tiba-tiba ada muncul di kecamatan? inilah yang semestinya dipikirkan, sebelum melahirkan sebuah program atau kegiatan, bikin ATURAN-nya dulu yang jelas sehingga semuanya mendapat pemahaman dan panduan yang sama.

Apa yang sama dalam kasus kasus di atas? ATURAN. Mestinya sebelum berpijak dengan Teknologi, buatlah ATURAN yang jelas dan win-win solutions, yang kesemuanya bermuara pada kesejahteraan masyarakat bukan hanya kalangan vendor/usaha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *