Diary ITE-6 : 1st Day, Berjumpa Teman Baru dari Luar Negeri yang Pernah Bekerja dengan PBB

My fren Form Timor Leste

Sengaja saya kasih judul panjang begini karena sudah janji sama beliau. pada saat pembukaan beliau ada didepan saya, di kelas beliau juga ada didepan saya, sampai akhirnya tadi malam pada saat makan malam saya duduk dekat beliau, teman baru saya dari luar negeri, catat ini teman baru saya yang benar-benar dari Luar Negeri, dari Negara Timor Leste. nama beliau adalah Joaquim Andre, seorang pegawai Kementerian Pekerjaan Umum, Transportasi dan Telekomunikasi Timor Leste.

Saya sangat-sangat merasa tertarik untuk mendengar cerita beliau tentang negara Timor Leste. Sebuah negara ASEAN termuda yang dulunya adalah sebuah Provinsi di Negara Republik Indonesia. Banyak yang bikin saya ketawa mendengar kisah-kisah beliau tentang kehidupan negaranya. Gaji pegawai disana hanya gaji pokok saja, tidak ada tunjangan macam-macam seperti di Indonesia. Disana juga tidak ada naik pangkat yang ada namanya naik step seperti kenaikan gaji berkala di PNS kita setiap 2 tahun.

Pendapatan disana susah, gaji pegawai sedikit sementara bahan-bahan pokok mahal. Namun mereka mengerti keadaan negaranya, meskipun sebagian pemuda-nya pergi keluar negeri untuk mencari kerja. Ada yang ke Inggris, ada yang ke Australia, ya karena kesejahteraan di dalam negeri mereka juga susah. Menjadi pegawai negeri gaji kecil, mau jadi swasta gak punya modal dan keahlian, ya makanya sebagian pekerjaan infrastruktur mereka diserahkan pada BUMN-BUMN kita.

Beliau sebelum bekerja pada kementerian Kementerian Pekerjaan Umum, Transportasi dan Telekomunikasi Timor Leste sebelumnya adalah tenaga lokal PBB. Sewaktu Timor Leste memisahkan diri dari Indonesia, beliau ikut bekerja dengan PBB. Sampai akhirnya beliau ikut juga bekerja untuk PBB pada proyek di negara Afrika, tepatnya di ujung benua afrika, Negara LIBERIA. Beliau bekerja sebagai engineer jaringan, listrik dan air untuk gedung-gedung fasilitas milik Perserikatan bangsa-bangsa yang ada disana. Pengalaman disana sungguh menarik sekaligus menyedihkan buat saya. para penduduk dinegara tersebut benar-benar miskin, peminta-minta ada dimana-mana, bahkan meminta sampai memaksa dan ikut sampai masuk ke rumah, kalau gak dikasih gak bakal pergi mereka. Apalagi tau dengan orang-orang PBB seperti beliau, para penduduk memandang beliau orang kaya yang pasti banyak duitnya. Masalah krimimal disana luar biasa bahayanya, kalau ditempat kita sekelas copet main nya sembunyi-sembunyi dan tidak melukai, disana pada bawa pisau, kalau jalan sendiri bisa di sodok ditempat sepi diambil duitnya lalu ditinggal mati ditengah jalan. Belum lagi masalah prostitusi, mereka seenaknya “main” dipinggir-pinggir jalan, atau digang, bahkan berdiri disamping mobil, sungguh luar biasa sedihnya. Para wanita bekerja, sementara lelakinya ongkang-ongkang kaki saja. Kadang kala sebagian pekerja lokal Afrika juga diajak untuk projek PBB ini, habis gajian mereka malah beli topi, baju, dan celana baru, eh 2 hari kemudian sudah balik lagi ke tempat kerja dengan kondisi compang camping entah kemana itu baju celananya yang baru kata pak Joaquin.

Bagaimana hidup di Timor Leste saya tanya? disana makan mahal, sekitar 10 dolar yang standar indonesia kelas 25ribuan. Belum lagi budaya-budaya masyarakatnya yang memberatkan penghasilan wakwkakkaw. Kalau disana mau kawin, syaratnya harus punya sapi. Bukan 1 atau 2 tapi 70 ekor. 70 ekor itu yang paling tinggi, kelas rendahnya 24 ekor. Disana harga sapi sekitar 1000 dolar, artinya kalau mau kawin, minimal punya modal Rp 313,260,000,-. Kenapa seperti itu saya tanya? kalau kau melamar anaknya dan menawar sapinya, bapaknya yang marah-marah “hey, aku kawin sama ibunya dengan sekian banyak sapi, masa kau mau minta lebih rendah” begitulah adanya.

Ya, itulah kisah saya hari ini, sengaja saya keluarkan malam ini biar besok fresh, karena pusing saya kalau otak ini isinya kisah-kisah yang tak tersalurkan. wkakwakwkaw. Meski malam ini saya ketik kisah ini di ruang kelas sendirian, tapi puas rasanya. Ah, sudah lah saya mau tidur dulu, semoga besok saya punya cerita menarik lagi buat kenang-kenangan saya.

From 2nd flor Main Building KOREA-INDONESIA ICT TRAINING CENTER Cikarang pukul 22.00 WIB ,saya pamit pamit undur diri, jumpa lagi disaluran yang sama, SININJA.COM

One thought on “Diary ITE-6 : 1st Day, Berjumpa Teman Baru dari Luar Negeri yang Pernah Bekerja dengan PBB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *