Diary ITE-6 : 1st Day, 1st Materi, TIK & pembangunan yang bermakna, e-Gov dan Smart City

ITE-6

Untuk materi pertama sesuai modul yang saya terima judulnya adalah TIk dan Pembangunan yang bermakna. Ah, teori nya panjang sekali, cuma ada beberapa hal menarik yang saya dapat di hari ini. Dari apa yang disampaiakn oleh pemateri pada akhirnya saya bisa memahami mengapa smartphone itu sebentar-sebentar tiba-tiba keluar yang baru, lalu kenapa penerapan e-Government itu sepertinya susah dan rumit sekali,6-3-3 adalah rumus yang diberikan oleh beliau. 6 bulan adalah masa research sebuah produk. Setelah itu ada 3 bulan fase produksi dan akhirnya 3 bulan berikutnya adalah masa end of life alias masa pembunuhannya. Kenapa ini terjadi? ya inilah pola kerja bagi perusahaan-perusahaan itu untuk terus hidup. Mereka harus membunuh produk produk sebelumnya untuk melahirkan produk baru. Kalau tidak bagaimana mereka bisa terus dapat pemasukan alias uang wakwkakwakw. Karena itu janganlah kita menomorsatukan teknologi gunakan yang memang berguna bagi kita. Tidak perlu beli smartphone canggih kalau BTS nya saja tidak ada di kampung kita misalnya, nanti internetannya pakai apa? kan begitu logikanya.

lalu hubungannya TIK dengan Pembangunan yang bermakna bagaimana? Sebelum lahir smart city-smart city macam Surabaya, Bandung, jakarta dsb, pernah dengan Jembrana? Sragen? Tau kehebatan pemerintah mereka dalam penerapan TIK sehingga populer dengan sebutan cyber city pada medio 2004-2006 silam? Lalu kemana mereka sekarang kok menghilang? Apakah mereka seperti bunga yang mekar kemudian jatuh layu lalu meghilang ditelan bumi? Ini adalah salahs atu contoh dari kegagalan-kegagalan dalam mengelola TIK di Pemerintahan.

Pokok penting yang sangat berharga hari ini saya dapatkan dalam masalah kegagalan penerapan IT di pemerintahan adalah menomorsatukan teknologi. Pada kebiasaannya Teknologi diletakkan pada posisi atas. Padahal teknologi tidak bisa dipegang, tekonologi akan terus berubah dan berkembang. Mestinya yang dimantapkan adalah ATURAN. sehingga urutan yang semestinya adalah :

  1. ATURAN : Aturan juga bukan sembarang aturan, haruslah diciptakan aturan yang benar-benar win-win solution antara para pihak yang berkepentingan. Dengan aturan yang jelas dan berkeadilan maka diharapkan tidak ada lagi yang melanggar aturan tersebut. Yang namanya Indonesia sebagai negara hukum, ya artinya setiap apa yang dikerjakan ada aturannya, ada dasar hukumnya.
  2. SUMBER DAYA MANUSIA : Selanjutnya persiapkan dan cari sumber daya yang mampu dan bisa mewujudkan serta memelihara aturan tersebut dengan mengggunakan teknologi.
  3. TEKNOLOGI Barulah dicari atau dibuat suatu sistem atau teknologi untuk melaksanakan aturan tersebut.

kadang kala kita liat orang canggih pake ini pake itu mau bikin juga, setelah bikin siapa yang make? apa SDM-nya sudah ada? lalu apa penggunaannya berkelanjutan atau mati begitu saja kalau tidak ada aturannya? inilah yang jadi tantangan bagi pemerintah khususnya pemerintah daerah dalam penerapan e-Gov di wilayahnya masing-masing.

E-Gov itu apa sih? E-Gov yang ideal dan semestinya harus memiliki 4 pilar penting yaitu

  1. Outrich : artinya terjangkau kepada seluruh lapisan masyarakat, tanpa batas usia, geder, pendidikan, tempat tinggal dan sebagainya.
  2. Governance : alias tata kelola. Tata kelola seperti apa yang semestinya dilakukan pemerintah sih? itu hal yang harus dijawab dalam pengimplementasian e-Gov ini.
  3. Policy : atau aturan. Kita harus benar-benar membuat aturan yang menyeluruh untuk mengatur serta melindungi hal-hal yang ada dalam lingkup penerapan e-Gov ini.
  4. Infrastruktur : inilah poin terakhir yaitu dengan teknologi apa e-Gov ini diwujudkan.

Lalu bagaimana dengan Smart-City?

Smart City yang benar semestinya telah meletakkan dasar-dasar e-Gov dengan baik dan kokoh. Proses bisnis atau tata kelola pemerintahannya semestinya dikuatkan pada back office. Bukan seperti sekarang yang penting tampilan mentereng, website menarik dsb. Padahal e-Gov yang benar itu ada dalam proses dibelakannya. Bukannya kita mau menampilkan data jalan yang diperbaiki misalnya 100 km lalu di ketik ke website, bukan sekedar itu. E-Gov yang benar proses dari hulu ke hilir itu memang sudah berbasis IT, sehingga tampilan akhir atau front end itu benar-benar menggambarkan progres atau kondisi yang sebenarnya, bukan sekedar ketikan belaka.

Tujuan dari smart city itu apa sih? tentu saja tujuannya adalah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, peningkatan kesehatan misalnya, kesamaan hak, menjamin keamanan, independen, kebebasan untuk memilih serta keberlangsungan kehidupan yang kesemuanya itu dibungkus dengan penerapan teknologi.

Bagaimana dengan di daerah saya Kabupaten Barito Kuala? ah, saya kok jadi malah malas mikir wkakwkakwaw. Itulah materi pertama yang saya dapat hari ini

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *