Mengembalikan Marwah Barito Putera

barito putera

Saat ini, di Torabika Soccer Champoinship 2016, tim PS. Barito Putera tengah terpuruk di dasar klasemen, posisi yang sungguh tidak mengenakkan. Kondisi ini diperparah dengan berkurangnya dukungan supporter kala tim bertanding di Stadion 17 Mei Banjarmasin. Apa yang terjadi dengan tim kebanggaan urang banua ini?

Melihat sejarahnya, khususnya ketika Barito Putera sudah naik kasta ke ISL sejak 2013 silam, ini adalah salah satu tim yang persiapannya cukup baik (selain tim 2015 yang gagal bersinar akibat kompetisi yang dibekukan oleh Menpora). Bukan hanya tim senior yang punya sederet nama mentereng, namun juga saya beri atensi khusus pada tim Barito Putera U-21 yang dipersiapkan secara serius, beda dengan tim u-21 musim-musim sebelumnya yang seleksi asal jadi.

Oleh karena itu, ketika tim Barito Puter U-21 bisa meraih kemenangan di kompetisi ISC U-21, tentu sudah sangat luar biasa jika dibanding dengan kondisi musim sebelumnya yang biasanya babak belur dihajar tim lawan. Barito Putera U-21 yang juga jadi tim PON Kalimantan Selatan dalam ajang PON Jabar 2016 juga turut menorehkan sejarah dengan lolos ke babak 8 besar. Artinya sepakbola usia muda Kalimantan Selatan sudah masuk dalam jajaran 8 besar di Indonesia.

Keadaan tim junior ini agak berbeda dengan tim senior yang kesulitan berlaga di TSC 2016, hingga pekan ke 24 ini supporter PS. barito Putera baru 4 kali bersorang kegirangan menyaksikan tim Barito Putera menang, sisanya 6 kali imbang dan 14 sisanya adalah kekalahan.

Salah siapakah ini? kesalahan tentu tidak bisa ditunjuk dengan 1 orang atau 1 pihak. Meskipun begitu, saya pribadi menyoroti 1 nama dari sekian banyak nama yang patut dipersalahkan, mohon maaf, dia adalah MUNDARI KARYA. Mundari ditunjuk sebagai pelatih 3-in-1 oleh manajemen PS. Barito Putera membuat publik pecinta sepakbola banua sudah “gelisah”. Salahuddin adalah “hero” yang membawa tim ini dari dasar kubangan divisi 2 delapan tahun silam hingga menapaki kasta tertinggi sepakbola ini Indonesia tentu adalah sosok yang ingin mereka lihat di pinggir lapangan mengatur strategi Barito Putera. Pemilihan Mundari sudah jadi sesuatu yang “salah” dimata mereka.

Meskipun begitu, supporter tetap memadati pertandingan pembuka TSC 2016 antara PS. Barito Putera melawan Bhayangkara FC (dulu Bhayangkara Surabaya United). Dan hasilnya adalah : KALAH. Inilah “kesalahan” Mundari selanjutnya, gagal menunjukkan kehebatannya dalam ujian pertama di kandang sendiri. Perlahan harapan mulai meninggi kembali saat Barito Putera mampu menahan imbang Mitra Kukar di Kutai pada partai kedua. Sehingga publik sepakbola banua percaya, kemenangan itu akan tiba.

Kemenangan pertama yang didapat pada laga ke 3 melawan Persegres Gresik United, 15 Mei 2016 di Stadion 17 Mei Banjarmasin. Meski sempat tertinggal 1 gol, namun selanjutnya ada Agi Pratama yang menyumbang 2 gol hingga Barito berbalik unggul 3-1. Sayangnya kemenangan ini dihiasi GEBRAK MEJA oleh Mundari Karya dalam konferensi pers, dihiasi kata-kata “saya ini pelatih nasional” seolah menujukkan pada supporter yang dari kemaren-kemaren mengkritiknya bahwa dirinya hebat luas biasa.

Pasca peristiwa itu supporter makin jauh yang menaruh respek padanya. Apalagi setelah itu hanya ada 3 kemenangan lain yang bisa diberikannya, sementara sisanya adalah imbang dikandang dan bahkan takluk pula di depan pendukung sendiri.

Sebenarnya, tuntutan penonton tidaklah banyak, mungkin untuk jadi juara saat ini belum lah perlu jadi tuntutan, hanya sekedar kemenangan di kandang itu sudah lah cukup. Namanya liga Indonesia, main di kandang lawan itu nasib-nasibnya adalah kalah, kalaupun bisa imbang apalagi menang artinya bisa “melawan takdir”. Kadang kala yang sudah goal bisa jadi offside, atau pelanggaran tidak jelas bisa jadi pinalti. Itu sudah biasa, kami tidaklah begitu menuntut untung menang di kampung orang. Cukup berikan kami hiburan di 17 mei, berikan kemenangan itulah Barito Putera kami selama ini.

Jikapun tak bisa meraih kemenangan di kandang kita, berikan permainan yang menghibur yang bersemangat. Masih jelas teringat ketika dulu Barito Putera kalah memang tetap main menyerang, kadang kala tim lawan sampai terkurung di setengah lapangan. Serangan lancar dari belakang kedepan, jika beruntung maka jadilah goal. Itulah sebabnya meski pada musim kedua Barito di ISL (2014) Salahuddin juga kadang kala kalah dikandang, supporter tetap sabar, karena mereka melihat kegigihan dalam permainan Barito Putera. Berbeda dengan tim yang dilatih oleh Mundari ini, “kuncang kurap kada karuan tampuh”, permainan seperti tanpa pol, mereka bilang mungkin pemain bingung dengan strategi Mundari Karya yang kelewat canggih. hahahhah, ada-ada aja.

Dan ada satu lagi “kesalahan” Mundari yang jadi bahan “pemupuk kekecewaan” supporter padanya. Alasannya apabila kalah adalah “ini tim pemain muda, jangan menuntut terlalu banyak pada mereka”. Astaga Mundari, memangnya kami ini tidak pintar, profile semua pemain itu sudah jelas terpampang di Internet. Kami tau mana pemain muda mana pemain tua, memangnya setiap pertandingan berapa sih pemain u-23 yang diturunkan? Agi Pratama saja jarang main, Riyandi juga baru beberapa kali turun bertanding. Kecuali standard “pemain muda” Mundari adalah U-30 nah mungkin saja kami salah membaca maksudnya. Jangan alasan pemain muda dong yang dipakai kalau kalah, sementara susunan pemain yang diturukan pemain-pemain senior. Apalagi pemain seniornya sudah berpengalaman, secara individu mereka sangat hebat luar biasa, artinya anda sebagai pelatih yang “gagal” memadukan mereka.

Kini Mundari sudah tidak menangani tim senior lagi, setidaknya harapan supporter sudah dijawab manajemen. Meski telat satu pertandingan, hari ini ingin saya ucapkan “Selamat Bertanding tim PS. Barito Putera dibawah asuhan Yunan Helmi, kalah menang kalian tetap juara dihati ku, dihati mereka, dihati kita”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *