Bernostalgia Dengan Penyeberangan Sungai Gampa (lagi)

Minggu ini saya lebih menikmati untuk pulang pergi Banjarmasin-Marabahan via penyeberangan kapal feri sungai gampa. Ya meski sebenarnya jarak tempuh yang dilalui untuk sampai di Marabahan via penyeberangan sungai gampa atau via Jembatan rumpiang tidaklah berbeda jauh, namun karena garis lurus nya lebih dekat ke kawasan perkantoran Pemkab. Barito Kuala kalau via penyeberangan maka saya bisa menghemat waktu sekitar 10 menit daripada biasanya hahahahaha.

Selama lebih kurang 28 tahun saya hidup di dunia, saya pernah mengalami 3 zaman transportasi untuk pergi pulang Marabahan-Banjarmasin. Tahun 80-90an, ketika saya masih kecil alat transportasi yang lazim digunakan adalah via sungai Barito. Disinilah zaman tumbuh kembangnya kapal, speedboat, longboat dan sejenisnya. Kalau anda biasa melihat speedboat, maka longboat adalah speedboat yang diperpanjang hahahaha. Sedangkan “kapal” dalam istilah ini adalah sejenis “kelotok” jaman sekarang namun memiliki body yang lebih besar.

Akhir 90an, awal 2000an adalah era angkutan darat. Mobil taksi Marabahan-Banjarmasin kadang-kadang satu hari 3x bolak balik. Zaman itu adalah zaman keemasannya mobil taksi. Puluhan taksi melintasi Wilayah Batola dari Banjarmasin. Bukan hanya jurusan Banjarmasin-Marabahan, seingat saya juga ada taksi yang khusus melayani Banjarmasin-Sungai Gampa (Kec. Rantau Badauh) dan Banjarmasin – Lepasan (Kec. Bakumpai). Ya itupun penumpang harus antri akibat armada yang terbatas.

Zaman kemudian berubah seingat saya beriringan dengan jaman SMA saya, sekitar 2003-2004an. Ketika saya punya sepeda motor sendiri, teman-teman juga lebih duluan pake motor sendiri. Masyarakat marabahan dan sekitarnya juga sudah pada punya motor, maka berubahlah selera naik taksi itu menjadi naik sepeda motor. Sejak sepeda motor booming di Marabahan, taksi mulai ditinggalkan meski tak se”ngenes” sekarang. Baik zaman naik mobil taksi atau zaman sepeda motor, untuk menuju Banjarmasin jalur utamanya adalah jalan AES Nasution terus ke Dahirang, Sungai Raya, Sungai Kambat, Pendalaman Baru lalu menyeberang di Feri Sungai Gampa. Begitulah hingga akhirnya ramai sekali lalu lintas penyeberangan disana.

Tahun 2008 keadaan berubah lagi, Jembatan Rumpiang telah selesai kokoh berdiri dan bisa dilewati. Berkat selesainya jembatan itu maka berubahlah jalur utama Marabahan-Banjarmasin yang semula lewat penyeberangan sungai gampa menjadi via jembatan rumpiang. Dengan selesainya jembatan itu, ada lagi pengaruh yang berubah khususnya urusan transportasi, yaitu Mobil. Semenjak jembatan itu selesai kini masyarakat Marabahan dan sekitarnya sudah banyak yang punya mobil, jadi untuk ke Banjarmasin sebagian yang punya mobil sudah tidak baik sepeda motor lagi.

Kini jalan-jalan antara Marabahan-Banjarmasin lebih sering dilewati kendaraan pribadi seperti sepeda motor dan mobil daripada taksi. Entah ini merupakan bukti bahwa kesejahteraan masyarakat batola makin meningkat atau bukan, yang jelas taksi makin merana, feri penyeberangan pun sepi adanya.

Kembali ke cerita saya melewati feri penyeberangan beberapa hari ini. Suasananya masih seperti dulu, namun keadaan dermaganya tentu agak mengkhawatirkan karena sudah lama tidak di renovasi. Untuk feri sepeda motor ada sekitar 10 buah yang berlayar secara bergiliran. Sementara untuk feri mobilnya cuma tinggal 1 yang melayani penyeberangan.

Berikut beberapa jepretan saya selama menikmati penyeberangan disana

Memasukkan Kendaraan
Memasukkan Kendaraan
Ada yang naik ada yang turun
Ada yang naik ada yang turun
Dermaga Sei Gampa
Dermaga Sei Gampa
Dilarang Bergantung
Dilarang Bergantung
Sampai di Seberang
Sampai di Seberang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *