Tutup Apotek Tanpa Apoteker (TATAP)

Obaat Zenith (img form antara)
Obat Zenith (img from antara)

Malam ini iseng-iseng buka FB habis memperbaiki printer Epson L210 mertua saya yang sedikit “bergaris-garis” kalau dipakai ngeprint. Tiba-tiba mata saya tertuju pada postingan yang di share sama om Jimmy Ahyari tentang fun campaign oleh Ikatan Alumni Keluarga ISMAFARSI, ISMAFARSI, Ikatan Apoteker Indonesia bersama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang menyerukan Gerakan Apoteker Bermartabat lewat 4 seruan.

“Kami menyerukan Gerakan Apoteker Bermartabat untuk Revolusi Apoteker Indonesia. Gerakan Apoteker Bermartabat terdiri atas 4 seruan yakni :

– Tutup Apotek Tanpa Apoteker (TATAP)
– Indonesia Bebas Obat Palsu
– Indonesia Bebas Obat Kadaluarsa
– Indonesia Bebas Narkoba

Salah satu poin penting yang saya kira patut untuk diperhatikan oleh Pemerintah Daerah, khsususnya di daerah saya Pemerintah Kabupaten Barito Kuala adalah mengenai seruan TATAP alias Tutup Apotek Tanpa Apoteker.

Kita tahu jaman sekarang obat batuk bisa dibikin mabuk, obat tulang rematik juga bisa dibikin mabuk. Kreatifitas anak-anak Indonesia memang luar biasa, obat-obat buat penyakit bisa diramu sendiri, kadang-kadang malah efeknya lain dari pada yang di maksudkan oleh perusahaan farmasinya. wkawkakwkawkaw.

Dulu sekali, di Marabahan sempat top yang namanya Dextro. Obat ini murah harganya, mungkin seribu dua ribu bisa dapat beberapa biji. Kalau aslinya Dextromethorphan adalah obat dengan fungsi untuk sementara menyembuhkan batuk tidak berdahak karena infeksi saluran udara tertentu (misalnya sinusitis, pilek biasa). Produk ini biasanya tidak digunakan untuk batuk berkelanjutan yang disebabkan oleh merokok atau masalah pernafasan jangka panjang (contoh: bronkitis kronis, emphysema) bila tidak dianjurkan oleh dokter. Produk ini mengandung dextromethorphan. Ini adalah penekan batuk yang bekerja dengan mengurangi keinginan untuk batuk.(sumber)

Tapi kalau jaman itu, Dextro diminum 5-10-15-20 biji. Buat apa? buat melayang, buat fly alias buat mabuk wkawkakw. Menurut rekan saya yang biasa “meuntal” itu barang, pertama kita bisa makan 5 biji sudah fly, besok-besok 5 biji gak mempan, naikkan dosisnya 10 biji sekali makan. Besoknya 10 biji gak berpengaruh mainkan 15-20 biji wkawkakwakw. Yang bahaya obat ini efek fly nya tidak lurus, maksudnya dari rendah ke tinggi lalu drop. Tetapi dari rendah, tinggi, rendah, tinggi, rendah, tinggi begitu sampai drop. Bahayanya kalau sudah keseringan, si pemakan gak tau lagi hitungannya ini lagi turun apa sudah drop. Makanya bisa bahaya pada saat turun dia nambah lagi misalnya 5 biji, wah naiknya jadi double, itulah kadang-kadang si pecinta dextro bisa mengap-mengap hampir OD. Satu-satunya penawar adalah susu hahahaha, ya waktu itu senjata paling ampuh untuk bikin sadar para penikmat dextro adalah susu beruang.

Kalau sekarang dextro sudah lewat, yang top adalah Zenith alias carnophen. Ya mirip-mirip lah sama fenomena dextro. Bedanya zenith katanya obat buat tulang atau rematik. Meminumnya tidak perlu sebanyak Dextro, cukup 2-3 biji sudah bisa fly, kalau dirasa turun bisa nambah cukup 1 biji, begitulah sampai seharian semalaman. Pada efek yang tepat, 2 biji zenith membuat rekan saya jago main futsal, tanpa perlu diganti, full main 2 babak wkawkakwkaw. Namun kalau kelebihan jadi 3 wah, tim saya akhirnya gagal lolos ke babak selanjutnya wkawkakwkaw.

Apa hubungannya dextro, zenith, apotek, apoteker dan Pemerintah Kabupaten?. yang namanya obat bermacam obat termasuk dextro dan zenith tentu dijual di toko obat alias apotek. Kadang-kadang toko obat asal jual obat, gak tau obat harus pakai resep dokter, atau obat dilarang edar ya dijual terus. Itulah akhirnya Dextro dan Zenith bisa didapat dengan mudah. Semestinya setiap toko obat harus berizin, dan yang namanya berizin tentu ada apotekernya, dengan demikian akan ada yang bertanggungjawab. Apabila ada pelanggaran misalnya jadi “gudang” zenith ya apotekernya kena hukuman, otomatis izinnya diputus dan toko obatnya gak punya izin akhirnya ditutup.

Maka dari itu untuk menekan penyebaran obat-obat yang palsu, kadaluarsa, obat dilarang edar apalagi narkoba, pemerintah daerah harus lebih selektif dalam memberi izin pendirian toko obat atau apotek. Penegakan peraturan yang lebih keras perlu dilakukan sehingga toko obatnya benar-benar toko obat bukan main-main. Apabila ditemukan toko obat yang tidak berizin, maka artinya toko obatnya ilegal, nah yang ilegal inilah yang harus ditertibkan sebelum terlanjur banyak dan bisa-bisa jadi sarang peredaran zenith dan sejenisnya. Maka dari itu seruan Tutup Apotek Tanpa Apoteker (TATAP) patut untuk diperhatikan sekaligus dilaksanakan oleh jajaran para pihak yang berwenang khusunya pesan saya ini untuk Pemerintah Kabupaten Barito Kuala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *