Dandaman Kada Bapancung, sebuah novel banua yang “mewaluhi” saya

dandaman kada bapancung
dandaman kada bapancung

Dandaman Kada Bapancung adalah sebuah novel karya urang banua, Aliman Syahrani yang isinya full menggunakan bahasa banjar. Bahasa Banjar yang digunakan amang Aliman dalam novel ini bukanlah bahasa banjar sehari-hari yang lazim saya gunakan, perlu meraba dan mungkin sebagian besar saya luput (salah, red) dalam mehamani tulisan dalam novel ini. Menggunakan bahasa Banjar Pahuluan yang jarang digunakan membuat novel ini sangat menatang bagi saya untuk membaca, sekaligus menyesal dan kecewa saat membaca akhir kisahnya.

Dandaman kada Bapancung, ibarat kisah kasih tak sampai seperti lagu-nya Padi. Dalam novel yang “tipis” ini (hanya sekitar 97 hal, red) kisahnya tentang seorang pria. Hanya kisah tentang kehidupan sehari-harinya. Seandainya novel ini dalam bahasa Indonesia, mungkin akan terasa datar sekali, tidak jelas dimana permasalahan dimulai, dimana klimax-nya dan dimana alur penyelesaiannya. Untung saja novel ini berbahasa Banjar yang membuat rasa penasaran dengan kata-katanya jadi bumbu untuk terus menikmati setiap kata yang tertulis didalamnya.

Dandaman Kada Bapancung membawa kita ke suasana banjar jaman bahari. Seperti menaiki mesin waktu dan menikmati bagaimana suasana urang banjar pada jaman datu nini dulu. Novel ini sepertinya cocok buat bahan diktat “muatan lokal” di bangku sekolah, karena didalamnya kaya akan kosa kata bahasa banjar yang sekarang hampir punah akibat jarang digunakan. Selain itu didalamnya juga banyak “mantera-mantera” yang saya yakin dan saya percaya bahwa itu memang mantera urang-urang bahari, bukan ciptaan atau rekaan amang Aliman sendiri. Mantera yang saya yakin, susah dicari siapa yang mampu mencatat dan mengumpulkan sebanyak dalam novel ini.

Dandaman Kada Bapancung pada akhirnya menyuguhkan anti-klimax yang membuat saya kecewa. Bagian-bagian akhir dari novel ini bercerita tentang kedatangan sang wanita ke rumah sang pria, di malam yang gelap, diiringi hujan deras, tengah malam. Mereka saling bicara lewat berbalas pantun yang sungguh menggoda. Setiap untaian pantun yang terucap dari sang wanita seolah memberi “umpan” pada sang pria, miliki aku, jadikan aku kekasihmu, aku sangat mencintaimu, aku sangat merindukanmu, ku harap kau yang menyatakan itu. Sang pria pun sepertinya faham dengan sinyal-sinyal cinta yang diberikan sang wanita, namun berlembar-lembar menuju akhir buku ini tak juga sang pria menungap (memakan, red) umpan sang wanita. Selalu saja ada rasa ragu yang membuat saya muar dan makin lama makin mambari muar dengan sang pria (geregetan, benci, red).

Seandainya saya berada di rumah itu pada malam itu, maka sepertinya saya akan berteriak ditelinga sang pria sambil marah-marah.

“ikam nih kisah kada paham kah kisah ka apaan kah, muar banar aku lawan pikiran-pikiran ikam itu. Cuba langsung haja disambut ujar biniannya tu. Inya sudah mambari kode bahwa inya handak lawan ikam, maka ikam kasitu kamari bapander lawan bapikir. Cuba langsung haja di tembak biniannya, aku sayang ikam, aku cinta ikam, hakun lah ikam jadi pacarku kaitu. Pasti inya manarima ikam”

(kamu ini seperti tidak mengerti saja, benci aku dengan pikiran-pikiran dalam otakmu itu. Cobalah untuk langsung saja menyambut umpan-umpan yang diberikan wanita itu. Dia sudah menyatakan secara tersirat bahwa dia mencintaimu, kenapa kamu bicara dan berfikir kemana-mana. Mestinya kamu langsung tembak saja wanita itu, katakan kalau kamu menyanyangi, mencintai dia. Maukah kamu jadi pacaraku, begitu semestinya. Pasti dia akan menerima dirimu, red)

Dan pada pentupnya, berlembar-lembar kisah dalam novel ini makin membuat saya benci. Ternyata rangkaian peristiwa yang menguras energi dan perasaan saya itu hanyalah terjadi di alam mimpi sang pria. Tak ada wanita yang datang tengah malam ditengah hujan, segala pantun percintaan itu rupanya hanya bunga tidur belaka. Dan sukseslah Amang Aliman menipu hati saya, me”waluhi” pembaca yang mengharapkan happy ending seperti saya ini.

Dimana hati dan perasaan anda wahai penulis novel ini? teganya engkau mengaduk-aduk perasaan seperti ini. Apa yang selama ini saya baca, apa yang berjalan dalam alam fikiran saya, apa yang jadi harapan dan impian saya atas akhir kisah cinta tokoh dalam novel ini ternyata palsu belaka. Semuanya hanya mimpi yang tak akan jadi nyata. Kisah cinta yang tak sampai, Dandaman Kada Bapancung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *