(BUKAN) Tentang PPDB Banjarmasin 2016

scanocrSebagaimana judul yang saya berikan dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas tentang PPDB Kota Banjarmasin Tahun 2016. Hanya karena dua tiga hari ini sedang ramai-ramainya masalah PPDB yang katanya :ngadat, jadi ya ingin sekali rasanya turut berbicara, tapi sekali lagi ini bukan tentang PPDB yang sulit di akses itu.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saya selama hidup dari 1 Januari 1988 sampai dengan detik ini, saya sudah 3 kali merasakan dan menjalankan aplikasi yang mengangkut hajat hidup orang banyak, yang diciptakan pemerintah Republik Indonesia dan digunakan oleh rakyat Indonesia.

Pertama adalah aplikasi “untuk membuat tanda pengenal kalau kita bepergian keluar negeri”. (sengaja saya samarkan kata-katanya wkawkakwawk). Projek ini dibawah salah satu Direktorat Jenderal di Sebuah Departemen dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I. Kebetulannya lagi saya saat itu diposisi sebagai Engineer untuk Wilayah Kota Banjarmasin.

Bulan Juli 2008 terjadilah proses konversi dari sistem lama ke sistem baru. Terus terang saya buta sama sekali dengan sistem lama dan hanya ditugaskan mengaktfkan sistem baru. Saya pun tidak tahu skenario apa yang digunakan dalam konversi ini, apakah bertahap atau langsung cut off antara sistem lama dan langsung mainkan sistem baru.

Seminggu sebelum proses konversi saya sudah berjibaku di tempat tugas itu. Skenarionya sederhana :

  • pasanglah hardisk tambahan ini ke slot server yang tersedia,
  • pastikan port 24 switch yang baru terhubung ke port 1 switch lama.
  • hubungkan setiap workstation yang baru dengan switch baru
  • restart server
  • hidupkan setiap workstation apabila server sudah menyala dengan stabil

sederhana? iya sederhana sekali tugas saya. Dan bagaimana hasilnya?

  • Server tidak membaca hardisk baru yang saya pasang
  • Workstation tidak mendapat IP
  • wal hasil cuman tulisan PXE Network booting yang berputar-putar wkawkakwwkawkakw

saking bodohnya saya waktu itu, saya pun tidak mengerti maksud daripada tugas ini. Ternyata ceritanya setiap workstation sudah punya “image os” masing-masing, tersimpan dalam hardisk yang saya bawa dari jakarta yang akan dimasukkan di server itu. Kemudian masing-masing workstation akan booting lewat jaringan yang terhubung ke server hingga nanti hiduplah workstation itu dari image OS yang dikirim oleh server, setiap hari. Kenapa tidak booting di hardisk masing-masing sebagaimana normalnya? rupanya ini untuk menghindari workstation terjangkit virus, driver error dsb. Maklum, OS-nya punya bill gates, tapi yang pasti mereka punya lisensi sendiri sampai boleh booting via PXE boot itu wakwkakwawkaw.

Hampir 3 hari saya menantikan jawaban kenapa di tempat saya gagal booting seperti itu. Mau mengutak atik server tidak berani (dan tidak bisa wkawkakw), sementara layanan dengan sistem lama masih terus berjalan. Puluhan masyakarat dilayani, (dan kemudian saya tau hitung-hitungannya normalnya ada 100an pemohon sehari).

Hari ke 4, akhirnya pukul 17.00 saya dapat telepon dari call center. Ini seperti mendapat wahyu atau mendapat hidayah. Setiap engineer memang tidak diperkenankan menghubungi call center, karena call center sudah menyusun jadwal untuk membereskan 60 site yang pertama kali harus rolling seperti yang saya alami di banjarmasin ini. Hampir 1 jam saya berbicara di telepon sambil dipandu oleh tim aplikasi pusat untuk membereskan masalahnya.

Rupanya setiap hardisk yang dipasang perlu dikenalkan terlebih dahulu dengan hardisk server lama. Apalagi setingannya yang RAID-RAID seperti itu, kalau cuma dipasang tidak “dikenalkan” ya gak bakalan dikenali oleh servernya.

Kemudian masalah workstation yang tidak bisa mendapat IP, rupanya ada bentrok antara 2 DHCP server yang aktif. Tim baru mengaktifkan DHCP server di hardisk baru, sementara sebagian site, termasuk di banjarmasin, DHCP servernya berjalan di switch lama. Wal hasil, bingunglah workstationnya mana IP yang diterima.

Setelah beres semuanya, dan setelah dicoba untuk booting, alhamdulillah berhasil. Ujicoba booting itupun sukses pada pukul 11an malam wkawkakw. Itulah pertama kali saya pulang tengah malam, dari Pal 5 A.yani ke Kayu Tangi. Untungnya pemandangan di sekitar HBI pas saya lewat waktu itu segar-segar, sehingga mengurangi rasa kantuk yang melanda wkakwkawkakw.

Hari itu hari rabu, akhir Juli 2008, jam 18.00 wita, engineer dari rekanan lama membereskan perangkat lama. Saya dengan pikiran yang khusnuzon juga dengan tenang menunggu dia selesai mengepak barangnya baru meletakkan satu per satu perangkat untuk sistem baru. Setelah dia pamit dan saling mengucapkan salam perpisahan, saya susun satu persatu perangkat saya. Mulai loket penerimaan, pembayaran, biometrik, wawancara sampai ke loket pencetakan akhir. Ah, saya coba hidupkan semua workstationya, dan taraaaaaa…….hidup semua workstationnya. Kita tunggu besok hari nya. hari dimana sistem baru ini harus menyala, sesuai dengan kontrak yang telah ditandatangani antara pihak Dirjen dan rekanan yang jadi atasan saya wakwkakwa.

Pagi itu, pagi pertama, pertaruhan atas semua perjuangan selama ini. Pertaruhan atas kontrak senilai 105 Milyar antara Pemerintah Republik Indonesia pun dimulai. Pagi itu semua dengan senyuman, siap melayani masyarakat. Jreng, masalah datang, kertas formulir lama tidak support dengan scanner yang baru. Padahal setiap formulir termasuk lampiran lainnya harus di scan. Adalah seorang lelaki paruh baya beralamat di Amuntai yang mau jadi percobaan, sebagai tester nomor satu dengan aplikasi yang telah dionlinekan. Setelah form di scan, akan ada proses OCR sehingga isian form tersebut langsung masuk ke aplikasi. Beres form scanner nya eh, nomor urut “buku” kasir nya yang belum di masukkan di inventori. Setelah berhasil meng-inventori lanjut ke proses pengambilan biometrik, alhamdulillah sampai titik ini berhasil.

Template biometrik yang sudah diambil itu menurut arsitektur aplikasinya akan dikirim oleh server lokal di kantor, ke server pusat, istilahnya BMS. BMS ini memproses setiap data dan template biometrik yang dikirim dari seluruh Kantor cabang di Indonesia ke pusat-nya. Apabila sukses melewati pemeriksaan dan pengecekan di BMS barulah data tersebut “diturunkan” ke server lokal kembali dan bisa di cetak.

Hari itu sudah pukul 12. Ratusan pemohon menanti tanpa kepastian. Dan saya yang dijadikan tameng menjawab pertanyaan-pertanyaan itu wakwkakwakw. Dan dengan muka tembok saya jawablah “Maaf pak, maaf bu, sistemnya masih baru, masih ada gangguan satelite jadi mohon sabar” wkawkakwkakw.

Jam 14.00 adalah jadwal seluruh Kantor Cabang se Indonesia (yang waktu itu Banjarmasin termasuk batch pertama bersama 59 kantor lain) untuk melakukan teleconference dengan Bapak Direktur Jenderal-nya di kantor Wilayah. Iseng-iseng habis makan siang saya coba cek di loket pencetakan, refresh browsernya dan ternyata…Aha…..muncul nama pemohon pertama tadi. Langsung hebohlah satu kantor. Langsung di cetak dan jadilah “buku” pertama yanng resmi dari kantor cabang di banjarmasin.

30 Menit waktu tersisa dari jadwal teleconference, saya yang cuma engineer dekil di Kantor itu turut di “seret” ke Kanwil untuk ikut conference, dengan mobil dinas secepat kilat meluncur dari Km 5.5 ke Kayu Tangi. Tibalah saatnya laporan dari 60 kantor yang termasuk dalam batch 1. Masing-masing melaporkan gagal, hanya ada 5 kantor yang sukses melaksanakan pelayanan dihari pertama titik balik konversi sistem itu. Banjarmasin, Palangkaraya, Medan dan 2 daerah lain yang saya lupa. Puji-pujian langsung diberikan kepada 5 kantor cabang yang sukses dalam implementasi. Sementara sisa-nya diminta bersabar dan bekerja sama dengan baik untuk kesuksesan pelayanan.

Senyum merekah dari Kepala Kantor cabang di banjarmasin terus terpancar, dan hari itu termasuk hari istimewa bagi saya, karena saya diajak makan-makan. Makan-makan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, yaitu di…RUMAH MAKAN PADANG wkakwkawkakwaw.

Kini, sudah 7 tahun saya pergi dari sana, alhamdulillah pelayanan terus berjalan lancar hingga sekarang. Kantornya pun sudah pindah dari Banjarmasin ke Banjarbaru. Kantor apa itu? silakan tebak sendiri dan jawab sendiri wakwkakwakw.

Untuk kasus kedua adalah masalah PUPNS akhir 2015 lalu

dan terakhir masalah e-filling Dirjen Pajak Kementerian Keuangan Republik Indonesia maret-april 2016 silam

Demikianlah apa yang dapat saya sampaikan paham gak paham jangan dipusingkan yang penting makan.

 

2 thoughts on “(BUKAN) Tentang PPDB Banjarmasin 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *