Noormiliyani : Kalau cuma tunangan gak dikawini ya gak kelar-kelar

Hj. Noormiliyani AS
Hj. Noormiliyani AS

Ah, saya merasa lucu sekali dengan istilah yang digunakan oleh Ibu Normiliyani, mengenai partai pengusung keikutsertaan beliau di pilkada batola 2017 nanti. Mekanisme partai yang (menurut saya) lambat dalam menentukan pilihan, memberikan dukungan kepada siapa dalam gelaran pilkada, membuat para calon menjadi gegana alias gelisah galau merana. Semakin cepat partai memutuskan tentu akan lebih baik karena para bakal calon kontestan bisa berpikir dan bergerak cepat menentukan langkah selanjutnya.

Sebagaimana kita ketahui Ibu Normiliyani AS sudah menyatakan bakal maju dalam pemilihan bupati dan wakil bupati Barito Kuala 2017-2022 mendatang. Kesiapan beliau rupanya makin matang sejak mengumumkan keikutsertaan beliau tersebut. Baru-baru tadi beliau menegaskan kembali siap untuk mundur dari kursi Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Selatan yang saat ini beliau sandang. Satu-satunya hal yang masih agak mengganjal adalah masalah dukungan perahu partai politik.

Padahal tentu mudah bagi partai untuk menilai beliau, sebagai kader Golkar peraih 45.495 suara, terbanyak diantara anggota DPRD Prov. Kalsel lainnya, populer di Kab. Barito Kuala, punya kedekataan dengan berbagai lapisan masyarakat berkat program-program PKK di Batola seperti bedah rumah, tentu modal bagus untuk memberikan “perahu” pada beliau. Hanya saja, proses penjaringan yang lama dan panjang membuat pilihan itu (kelihatannya) menjadi tidak mudah. Ya, sampai beliau berkata “Kalau cuma tunangan tidak kawin-kawin ya tidak selesai-selesai”. Perkataan yang menunjukkan betapa lamanya menantikan keputusan parpol pengusung. Mungkin hal yang sama dirasakan oleh Ahok, Gubernur Jakarta yang akhirnya memilih melalui jalur Independen.

Untung saja tidak bergantung begitu saja pada partai. Mesin politik beliau rupanya terus bergerak untuk “berjaga-jaga” seandainya parpol tak kunjung memberi restu. Maju dengan jalan Independen sudah beliau siapkan. Bahkan kabarnya sudah 50ribuan KTP yang berhasil terkumpul, lebih dari 2x lipat syarat minimal dari KPUD Kab. barito Kuala yaitu sebanyak 22.486 berkas. Bahkan untuk bakal calon bupati-nya apabila melalui jalur Independen, beliau sudah siap. Namun siapa sosok wakilnya beliau belum mau membuka, bisa berjilbab atau bisa berkopiah terangnya.

Mana yang lebih baik lewat partai atau lewat Independen? ah, saya sih terserah saja, kalau lewat independen sepertinya lebih prestesius karena berkat usaha dari awal hingga akhir, hanya mungkin bakal “sedikit” merepotkan KPU untuk verifikasi faktual ke lapangan. Namun kalau Ibu memilih dijalur Independen, artinya bakal banyak kontestan yang akan bertarung di Pilkada Batola 2017 nanti. Semoga sukses untuk semuanya…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *