Budaya Sensor Mandiri, Membudayakan sensor mandiri, dan memandirikan budaya sensor

LSFMelihat dan mengamati, tayangan-tayangan televisi masa kini, tentu jauh berbeda dengan jaman anak-anak dan remaja dulu. Ada banyak perubahan yang terjadi dan sayangnya perubahan itu sepertinya lebih mengikuti kebiasaan jaman sekarang, yang kadang kala memudarkan yang hitam dan menggelapkan yang putih. Ada banyak batasan-batasan budaya kita (yang baik) yang justru ditabrak oleh tayangan-tayangan tersebut, hingga akhirnya anak muda jaman sekarang makin kabur pemahamannya mana contoh yang baik dan yang mana yang buruk.

Kondisi tak jauh beda dengan film-film Indonesia yang tayang di bioskop. Meskipun harus saya akui makin banyak film bagus-nya, ada satu genre film yang paling saya tidak suka di Indonesia yaitu film horor. Film horor buatan indonesia jalan ceritanya begitu-begitu saja, liburan, ketemu hantu,dikejar-kejar, lalu mati. Dibumbui dengan adengan gadis-gadis seksi atau bahkan adengan ranjang yang tidak ada hubungannya dengan hantu, dan hantunya sendiri tidak jelas asal muasal dan sejarahnya. Hampir-hampir tidak ada nilai moral yang bisa dipetik dari film seperti ini.

Ketika menonton film horor di stasiun TV Thrill, ada banyak kisah horor yang menarik, tidak melulu tentang dikejar-kejar hantu. Bahkan yang tidak ada hantunya pun juga horor. Ada jalan cerita yang menarik dan menantang untuk diikuti, dan pastinya ada hal menarik yang dapat dijadikan bahan pandangan dalam kehidupan. Atau ketika saya menonton film Pay The Ghost di Studio XXI Duta Mall Banjarmasin, horornya lebih berasa bermakna, ada alur menarik dan hantu-nya pun punya sejarah sendiri yang pasti lebih masuk akal daripada film-film hantu di Indonesia.

Lalu apakah ada benang merah antara kasus-kasus kriminal sekarang, seperti pelecehan seksual, pemerkosaan dan kenakalan remaja dengan tayangan-tayangan ini?. Terus terang, kita yang sudah dewasa saja susah untuk mengambil hikmah dari tayangan-tayangan tersebut, apalagi anak-anak dan remaja. Membiarkan mereka menikmati tayangan-tayangan ini sedikit banyak akan mempengaruhi pola pikir mereka. Melihat film yang suka memukul atau menyiksa teman, membuat per”bully” an menjadi hal biasa pada mereka. Melihat sinetron anak sekolah pacaran, ya akhirnya budaya pacaran jadi hal yang sah-sah saja bagi anak SD.

Maka dari itu, ada baiknya kita mulai budaya sensor mandiri. Artinya kita mulai dari diri sendiri memilah dan memilih tontonan yang baik. Tontonan yang baik tentu saja tontonan yang dapat diambil manfaatnya dari yang kita lihat tersebut. Kemudian apabila ada anak-anak kita yang menonton televisi, ada baiknya pula didampingi. Mendampingi dalam artian turut menjelaskan pada anak tentang hal-hal yang ditampilkan itu. Misalkan ada adegan tidak baik pastinya kita cepat memberi tahu anak bahwa hal tersebut bukalan perbuatan terpuji dan baik, sehingga anak dapat mencerna mana yang baik diikuti dan mana yang tidak boleh diikuti. Secara tidak langsung anak dengan sendirinya akan punya “daya sensor” sendiri tentang hal-hal yang ditontonnya. Pada akhirnya Budaya Sensor mandiri ini akan menular dan memandirikan budaya sensor pada orang-orang disekitar kita.

Apalah artinya Lembaga Sensor Film (LSF) bekerja keras menyeleksi dan menyensor bagian-bagian terlarang di film atau di TV kalau yang menonton dan menyaksikan tidak sesuai dengan usianya. Lebih baik kita bantu LSF untuk menyensor sendiri tayangan yang baik untuk keluarga kita. Kalau tayangan-tayangan tidak jelas itu tidak ditonton, pada akhirnya mereka akan berhenti sendiri, toh industri televisi dan film ini sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi, ada supply and demand. Kalau masih ada penggemar dan penontonnya ya pastinya akan tetap ada tayangan tidak bermutu seperti selama ini. So, mari galakkan Budaya Sensor Mandiri, #AYOSENSORMANDIRI

 

3 thoughts on “Budaya Sensor Mandiri, Membudayakan sensor mandiri, dan memandirikan budaya sensor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *