Saya dan (Calon) Kontestan Pilkada Barito Kuala Tahun 2017 Bahagian Terakhir

MENUJU BATOLA 1

Ok kembali lagi di saluran dan frekuensi yang sama di sininja.com kali ini kita akan lanjutkan pembahasan tentang Saya dan (Calon) Kontestan Pilkada Barito Kuala Tahun 2017 Bahagian Terakhir, setelah pada tulisan pertama kemaren membahas tentang siapa mereka dalam hubungannya dengan saya pribadi wakwkakwa, dan bahagian kedua tentang tantangan saya kepada mereka.

Sebagaimana tulisan kedua saya kemaren mengenai tantangan mengembalikan kejayaan perekonomian wilayah feri penyeberangan, maka kali ini saya coba memberikan sedikit ide saya. Sebenarnya ide ini sudah lama sekali nongkrong di kepala saya. Pernah juga saya sampaikan sewaktu malam grand Final Atak Diang Kab. Barito Kuala tahun 2010, malam dimana saya dinobatkan menjadi Atak Harapan 1 wkkwkakw.

Sebagaimana kita ketahui, untuk menuju kota marabahan dari Kota Banjarmasin perlu menyeberang sungai, kalau dulu lewat Feri penyeberangan di Sungai Gampa, atau sekarang lewat Jembatan Rumpiang di Bantuil. Jika disederhanakan Sungai Gampa, Bantuil dan Kota Marabahan bisa dibilang sebagai sebuah Segitiga. Ya, sebuah daerah segitiga yang mestinya kedua kakinya yaitu sekitar feri gampa dan sekitar rumpiang terus dihidupkan perekonomiannya supaya segitiganya tidak runtuh.

Apa yang harus dilakukan di setiap sisinya? Maka kita harus kembangkan sebuah kawasan segitiga yang saling mendukung. Kalau mau keren-kerenan bisa kita bangun sebuah kawasan yang bernama Segitiga CEMARA (Cerbon, Marabahan, Rantau Badauh).

Bagaimana agar ketiganya bisa saling mendukung dan berkembang? Yang pertama dan yang utama tentu saja adalah Infrastruktur. Kalau Jalan dari Cerbon sampai Marabahan sudah ok, maka tinggal mengembangkan jalan dari Marabahan sampai ke Feri Penyeberangan Gampa (rantau Badauh). Jalannya perlu dilebarkan dan diaspal hotmik supaya makin mulus.

Apa langkah selanjutnya? Selanjutnya adalah menghidupkan kembali pusat budidaya Jeruk atau Limau di Desa Sungai Kambat. Bukankah kita pernah begitu mengelu-elukan Limau Kambat, bahkan sampai dinobatkan menjadi Limau Termanis No 2 di Indonesia ketika tahun 2007/2008 lalu. Bahkan pernah dibuat rangkaian Jeruk terbesar di Hari Jadi Kab. Barito Kuala Tahun 2008 silam yang konon kabarnya masuk rekor muri. Apa cuma sampai mencapai pengakuan sebagai jeruk termanis no 2 dan masuk rekor muri lalu jeruk sungai kambat ditinggalkan?

Padahal kawasan ini tinggal dikembangkan sedikit lagi, apalagi dengan pengakuan secara nasional sebenarnya sudah jadi bahan “iklan” yang luar biasa. Dulu cita-citanya kan ingin menjadi kawasan agro politan, dengan suasana khas pedesaan, bisa makan-makan di pondokan, atau sambil memetik buah limau langsung di kebunnya, kenapa sampai sekarang tiba-tiba hilang gaungnya?

Sederhana saja tinggal diperbaiki dan diperluas akses jalan masuknya, lalu fasilitas utama seperti pondokan-pondokan buat pengunjung makan, tempat parkir yang luas,mushalla, serta toilet yang bersih. Alangkah indahnya kawasan Agropolitan Sungai Kambat. Apalagi kalau petugas-petugasnya dari masyarakat setempat, tinggal dididik dan dilatih supaya profesional, wah lapangan pekerjaan buat mereka.

Setelah kawasan Agrowisata Sungai kambat beres apa selanjutnya? Ya tinggal dermaga feri penyeberangan diperbaiki, diperbaharui, kalau perlu di rombak total seperti dermaga Marabahan. Berhubung kayu ulin yang besar-besar susah didapat, maka ganti semuanya dengan beton dan besi, yang kuat bertahun-tahun diterpa air dan panas. Setelah dermaga ok, maka tinggal Kapal Feri-nya dibantu untuk diremajakan. Biar kuat dan meyakinkan untuk menyeberangkan mobil maupun sepeda motor.

Nah, setelah sisi segitiga Marabahan-Sungai Gampa beres, berarti segitiga cemara sudah siap untuk bangkit. Kalau ada orang ingin ke Marabahan, mereka sudah punya tujuan. Pertama berfoto-foto ria di Jembatan Rumpiang, kan disana sudah cukup bagus dan tertata, apalagi ada monumen “MARABAHAN KOTA BAHALAP” yang sangat cantik disisi kanan sebelum naik jembatan Rumpiang, tentu bisa jadi “identitas” alias ciri Khas kalau pergi ke Marabahan.

Sampai kota Marabahan bisa jalan-jalan sambil wisata religi ziarah ke Kubah Datuk H. Abdussamad, lalu menikmati siring kota Marabahan di depan Kantor Bupati barito Kuala, ya kalau bisa pedagangnya lebih ditata biar rapi dan bersih saja lagi.

Selepas itu siang-siang para pelancong bisa menuju agrowisata Sungai Kambat, menikmati suasana metik buah limau di kebunnya langsung, lalu memancing ikan di kolamnya Balai Benih Ikan (BBI) di lingkungan kebun limau baru kemudian bersantap siang nan nikmat ditemani angin sepoi-sepoi di pondokan.

Setelah kenyang, bisa kemudian pulang kembali dengan menuju ke feri penyeberangan sungai gampa. Sambil menunggu feri-nya bongkar muat angkutan, bisa saja sambil santai-santai beli oleh-oleh khas marabahan misalnya Kerupuk Pipih di warung-warung sekitar dermaga. Kalau hari masih panas bisa saja sambil minum-minum teh es…bah mantab banar tu pang.

Begitulah kira-kira khayalan saya bagaimana caranya untuk mengembalikan perekonomian di sekitar wilayah feri sungai gampa. Supaya sama-sama menikmati kemajuan daerah. Mudah-mudahan ada yang bisa mewujudkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *