Saya dan (Calon) Kontestan Pilkada Barito Kuala Tahun 2017 Bahagian Ke 2

MENUJU BATOLA 1
MENUJU BATOLA 1

Setelah membedah beberapa calon kontestan Pilkada Batola 2017 dalam bahagian pertama kemaren, hari ini saya ingin melanjutkan ceritanya. Adapun pokok bahasan yang akan kita pelajari hari ini adalah mengenai apa dan bagaimana kelanjutannya… walah apa ini seperti guru saja waktu mengajar hahahaha.Kisah ini bermula ketika 10 tahun yang silam, ketika saya baru lulus SMA dan merantau ke kota Banjarmasin. Ibu kota provinsi Kalimantan Selatan yang saya cintai ini, sebagai tempat meraih ilmu dan masa depan, tempat saya menginjakkan fase kehidupan yang baru sebagai seorang MAHASISWA. Kampus pertama saya adalah STMIK Indonesia Banjarmasin, meski cuma 3 bulan disana hahahaa. Tapi disanalah saya punya banyak kawan dan berteman baik hingga sekarang. Meski ijazah saya bukanlah keluaran sana, saya masih bangga menyebut sebagai lulusan sana wkakwakwkaw.

Ketika itu saya kuliah dengan jadwal 6 hari di banjarmasin, lalu sore sabtu sampai sore minggu pulang ke Marabahan. Saat itu Jembatan Rumpiang masih dalam tahap pengerjaan, sarana vital penyeberangan adalah di Sungai gampa via kapal Feri.

Singkat cerita, saya punya kawan yang merupakan adik salah satu pedangang di dermaga feri tersebut. Kebetulan dia juga kuliah di kota Banjarmasin. Satu yang membedakan kami adalah mengenai uang saku mingguan. Kalau saya hanya Rp 70,000,- seminggu, dia punya uang Rp 400,000,- / minggu. Bayangkan coy hanya nol koma sekian persen dari jatah mingguan dia.

Saya bukan membahas perbedaan uang saku, hanya yang ingin saya garisbawahi adalah “BETAPA SEJAHTERANYA PARA PEDAGANG DI DERMAGA PENYEBERANGAN FERI SUNGAI GAMPA” itu, ketika tahun-tahun kejayaannya, sebelum Jembatan Rumpiang selesai dikerjakan. Ketika lalu lintas dari dan ke Marabahan full melewati feri penyeberangan.

Mari kita lihat hari ini, saat Jembatan Rumpiang tegak berdiri, mereka ditinggalkan, mobil dan sepeda motor sudah jarang lewat sana, sehingga perlahan perekonomian para pedagang disana menurun.Saya tidak protes atau kecewa dengan berdirinya Jembatan Rumpiang, hanya saya yakin pasti ada jalan untuk mengembalikan kehidupan masyarakat sekitar feri penyeberangan meningkat kembali seperti dulu.

Hari ini saya hanya ingin menantang para kandidat, para kontestan Pilkada Bupati dan Wakil Bupati Barito Kuala Tahun 2017 nanti, adakah sampean-sampean punya niatan, dan punya rencana untuk mengembalikan kehidupan disana, sejahtera seperti dulu, seperti ketika teman saya punya uang saku mingguan Rp 400,000,- per minggu. Biar ular kada kekanyangan, dan kodok kada matian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *