Menjadi Bendahara bagian ke-2

Sebagaimana janji saya kemaren untuk seri ke 2 tentang bendahara ini saya akan mengkhususkan pembahasan UP/GU. Karena uang inilah yang cukup merepotkan pekerjaan bendahara hahahhaa.pada awal tahun, seorang bendahara perlu duit modal untuk bekerja. Duit modal ini namanya adalah UP atau uang persediaan. Besaran nilai UP diusulkan oleh SKPD kepada Bupati melalui BUD (bendahara umum daerah). Adapun rumus menentukan UP adalah : anggaran belanja langsung dikurangi belanja LS pihak ke 3 kemudian jumlahnya dibagi 12.  Untuk kecamatan biasanya nilanya antara 15 smpai 50 juta. Skpd kecil antara 50-100, sisanya mulai 100 hinggal 500 jutaan.

Untuk studi kasus kali ini kita ambil contoh skpd BKD Batola. Biasanya UP untuk BKD adalah 200jt. Hanya sekarang turun menjadi 150 juta sesuai dengan anggaran yang ada.

Bendahara BKD membuat spp dan spm Up beserta kelengkapan lainnya untuk diserahkan ke BPKAD. Selanjutnya BPKAD akan mengecek kelengakapannya lalu menerbitkan SP2D UP. Lalu sp2d up ini dibawa oleh bendahara ke bank kalsel. Oleh bank kalsel lalu dilakukan pemindah bukuan dari RKUD ke rek SkPd sejumlah 150 juta misalnya.

Uang 150 juta ini masuk ke kas skpd dan dapat dicairkan sewaktu2 dengan menggunakan cek yang sudah ditandatangai oleh bendahara beserta kepala skpd dengan ketentuan jangan ditarik langsung semuanya karena nanti susah mengontrol dan menyimpan duit kalau kebanyakan hahahaha. Ambil contoh tariklah 10 atu 20 juta per tarikan.

Uang tunai 20 juta yang kita tarik tadi dapat dipergunakan sesuai dengan DPA yang ada. Misalnya bayar listrik,ledeng telp, atau beli atk atau ganti olie mobil dinas bos dan lain lain. Kalau sudah habis 20 juta ambil lagi ke bank dengan cek..begitu seterusnya. Jangan lupa setiap bayar bereskan spj nx berupa kuitansi dan bukti dukungnya. Jangan seperti beli kacang diwarung tidak pakai kuitansi dan nota.

Setelah duit ditarik dan dipakai entri lah kuitansinya ke aplikasi simda supaya semua transaksi tercatat. Termasuk penarikan uang di bank juga wajib dientri d simda.

Begitu uang yang terpakai mencapai minimal 70 persen dari UP maka siapkan berkas-berkas bukti dukungnya dan buatlah SpJ untuk ganti uang/GU. Maksudnya adalah kita dapat UP 150 juta lalu kita pakaai 150 juta makka habis duit kita d rek bank. Untuk mengisi duit lagi maka buatlah spp dan spm gu beserta kelengkapannya. Nanti BPkAD akan mengeluarkan sp2d Gu sejumlah yang kita pakai misalnya 150 juta lagi. Kita bawa ke bank nanti akan masuk lagi duit 150 juta ke rek skpd. Bisa ditarik lagi seperti awal kisah tadi dan begitu berulang2 smpai akhir tahun

Mudah mudaha paham kisah yang agak tepuntal puntal ini. Sebgai informasi tulisan ini diketik via hp samsung j2 di terminal 2 bandara soekarno hatta sambil menunggu tas bagasi yang lama sekali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *