Rio dan Duit di F1 Tahun 2016

Rio HaryantoHari-hari sebelumnya saya pribadi cukup tegang menanti kepastian turun tidaknya Rio Haryanto di Formula 1 tahun ini. Menjalani musim yang bagus di GP 2 tahun 2015 adalah modal Rio untuk unjuk gigi di pentas Formula 1. Ketika tawaran datang dari sebuah tim F1, tentu saja ibarat hendak mendapat durian runtuh, “dalas hangit balangsar dada” saya pribadi sangat berharap tawaran itu bersambut dan Rio Tampil di Formula 1. Saat saya tak pernah lagi melirik F1 setelah M. Schumacher pensiun, mungkin kehadiran Rio di pentas dunia ini kembali membuat mata saya melirik siaran F1.Mengapa jadi pembalap di F1 harus bawa duit? bukankah biasanya malah tim yang ingin mengotrak pemain seperti di sepakbola yang membayar pemain? eits…ini Formula 1 bung, balapan jet darat yang super mahal, sulit dibandingkan dengan cabang olahraga lain, apalagi dengan status Rio yang seorang “new comer” alias pendatang baru. Bagi Manor (tim yang mengontrak Rio) mungkin membawa Rio adalah sebuah perjudian, apakah nanti balapannya bagus, membawa prestasi bagi tim, sekaligus mendatangkan pundi-pundi uang dari sponsor yang berebut datang, atau malah cuma pembalap yang cuma menabrak-nabrakan mobil dilintasan, terus gagal finish dan malah membuat biaya tim bengkak akibat mobil yang selalu rusak? Bayangan seperti itulah yang membuat harga sebuah kursi di F1 begitu mahal, selain tentunya memang ongkos operasional sebuah tim menjalani semusim balapan yang memang tinggi.

Pay driver’ adalah sebuah kelaziman dalam dunia balap F1. Bahkan, pebalap seperti Fernando Alonso atau mantan-mantan pebalap seperti Michael Schumacher dan Niki Lauda mengawali kariernya sebagai ‘pay driver’.

Dengan menjadi ‘pay driver’, Alonso, Schumacher, dan Lauda, membeli jalannya sendiri untuk tampil di lintasan F1. Pada kelanjutannya, mereka membuktikan bahwa mereka punya kemampuan dan punya nilai jual sehingga akhirnya bisa pindah ke tim yang lebih besar.

Beberapa tim papan tengah atau yang lebih kecil menggunakan model ‘pay driver’ ini mengingat mahalnya biaya untuk berkompetisi di F1. Sebagai gambaran, untuk keperluan bahan bakar selama satu musim, yang kira-kira sebanyak 200 ribu liter tiap musim, menghabiskan sekitar 400 ribu euro (Rp 6 miliar) tiap tahun. Manor sendiri diperkirakan mengeluarkan biaya sebesar 83 juta euro sepanjang 2015.

Ini berbeda dengan tim-tim besar yang punya cukup nilai jual dan pemasukan yang besar sehingga bisa membiayai diri sendiri. Sedikit pengecualian bisa diberikan kepada Ferrari, yang mengontrak Alonso sebagai pebalapnya lantaran ia membawa serta Santander sebagai sponsor ke tim asal Italia itu. (detik)

So, sebuah hal yang wajar jika kehadiran Rio di balapan F1 harus dengan biaya yang mahal, perlu dukungan semua pihak untuk membantu setidaknya awal musim ini. Siapa tahu ketika musim balap 2016 berjalan Rio tampil dengan mengesankan, dan ketika 2017 nanti Rio sudah punya sponsor-sponsor sendiri yang akan mendukungnya meneruskan penampilan di F1. Siapa tahu???

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *